Posted in balikpapan, keluarga, komunikasi, pasangan, pernikahan, psikologi

Menjalin Komunikasi Romantis dengan Pasangan

​Ketika memasuki gerbang pernikahan, sebagian pasangan mengharapkan hubungan yang romantis, harmonis, awet dan langgeng. Namun suatu hubungan tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan komitmen semula. Ada kalanya hubungan tak semanis dan seindah yang diharapkan. Seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, muncul permasalahan dan hubungan pasangan pun menjadi renggang. Terlebih lagi, saat anggota keluarga bertambah sehingga menyita perhatian, waktu, dan energi pasangan. 

Tanpa adanya kontak dan komunikasi diantara pasangan, hidup berumah tangga mudah mengalami keretakan. Mitos populer yang beredar tentang komunikasi, yaitu ketika sudah berbicara dengan pasangan berarti kita sudah berkomunikasi. Misalnya, “Sudah makan? Bagaimana kegiatanmu hari ini?”. Padahal pembicaraan tersebut masih dangkal dan membahas hal-hal yang tampak saja. Komunikasi yang diharapkan dari pasangan suami istri adalah pembicaraan yang lebih mendalam dan dapat menyampaikan pesan dengan leluasa. Pasangan suami istri sebaiknya mengetahui hal yang tidak disukai atau yang tidak disukai. Kebiasaan, sifat, harapan dan keinginan pasangan juga perlu dibicarakan satu sama lain. Hindari untuk menebak-nebak keinginan pasangan dan berharap pasangan mengerti tanpa perlu diberitahu.   

Permasalahan lain yang sering dikeluhkan para istri dalam komunikasi dengan pasangan adalah suami yang sudah berkurang kadar romantisnya atau bahkan tidak romantis sejak awal menikah. Jadi, bagaimana cara untuk berkomunikasi romantis dengan suami? Sebelum kita menuntut suami untuk berkomunikasi romantis, hal yang perlu dilakukan adalah menunjukkan komunikasi romantis tersebut kepada suami terlebih dahulu. Jangan segan atau gengsi untuk mengulang ucapan dan perilaku yang diinginkan kepada suami setiap hari, perlahan-lahan suami akan berusaha melakukan hal yang sama. Kalaupun romantisme sudah ditunjukkan oleh suami namun belum sesuai dengan keinginan istri, maka coba komunikasikan tanpa perlu memaksa atau menuntut secara terus menerus. Misalnya, sekedar ingin makan bersama, mendengar sapaan, atau meminta hadiah. Perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat. 

Terkadang suami berperilaku kurang romantis karena memang tidak memiliki contoh romantis dari lingkungan ia dibesarkan. Mungkin saja ia dibesarkan di lingkungan yang keras untuk bertahan hidup sehingga wajar jika tidak paham cara untuk berperilaku romantis. Hindari membanding-bandingkan dengan tipe suami yang lain karena dapat memicu permasalahan baru. Para suami terkadang perlu diyakinkan bahwa romantisme perlu tetap ditunjukkan pada istri meski usia pernikahan terus bertambah. 

Sesekali menghabiskan waktu berdua, tanpa anak dan gawai, diperlukan untuk menumbuhkan romantisme antar pasangan. Luangkan waktu untuk berkomunikasi. Tingkatkan kemampuan komunikasi pasangan dengan lebih banyak mendengar dalam keadaan emosi yang sedang tenang. Selain itu, perhatikan bahasa tubuh (non verbal) dari pasangan, seperti nada suara, kontak mata, jarak berbicara dan sebagainya. Bahasa tubuh ini memberikan kita lebih banyak informasi dibandingkan hal yang sedang dibicarakan. Selain itu, adanya perhatian kepada pasangan dengan cara memberikan pesan singkat, hadiah atau kejutan dapat mengembangkan komunikasi romantis. Jangan lupa berikan pujian pada pasangan karena mau berjuang dalam satu rumah tangga hingga saat ini.  

http://kaltim.prokal.co/read/news/298694-komunikasi-romantis.html

Advertisements