Posted in balikpapan, depresi, insomnia, kecemasan, kesehatan mental, psikologi, relaksasi, sulit tidur

Membangun Kekuatan Mental

mental-health-stickers

Telah banyak diketahui bahwa terdapat hubungan erat antara pikiran dan tubuh, yang berarti pula terdapat hubungan antara kesehatan fisik dan mental. Jika kita merasa kurang nyaman dan kita tidak tahu sebabnya, terkadang hal yang perlu kita lakukan adalah melakukan perubahan secara fisik, bukan hanya mengubah pikiran. Memberi saran untuk “berpikir positif” terkadang kurang mengena untuk sebagian orang.  Tips berikut dapat dilakukan untuk membangun kekuatan mental melalui fisik kita:

  1. Berjalan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi cara yang efektif untuk membantu menyelesaikan masalah mental. Dengan berjalan 30 menit setiap hari dapat mengurangi depresi dan meningkatkan kualitas hidup. Manfaat berjalan bukan hanya untuk orang yang depresi, namun juga orang yang sehat.
  2. Tersenyum. Penelitian juga menemukan bahwa senyuman dapat membantu meningkatkan rasa nyaman. Sebaliknya, merengutkan dahi dapat meningkatkan rasa tidak nyaman/sakit. Denyut jantung dapat berdetak lebih pelan jika kita tersenyum saat menghadapi peristiwa yang penuh stres, walaupun kita sedang tidak merasa senang. Kita dapat berpikir tentang tempat yang membuat kita senang atau hal lucu ketika sedang menjalani prosedur yang menyakitkan. Hal tersebut dapat mengurangi rasa sakit.
  3.  Tarik napas panjang untuk meningkatkan konsentrasi. Tarik nafas dilakukan beberapa menit dan sambil menghitung tarikan nafas akan membantu ketika menghadapi banyak tugas.
  4. Berlatih beban. Hal tersebut dapat mengurangi kecemasan, takut, dan khawatir. Tanpa adanya intervensi, kecemasan dapat membuat kurang tidur, rasa sakit, kurang sehat dan terbatas secara fisik. Tidak perlu berlatih angkat beban yang berat, lakukan yang ringan atau sedang untuk mendapatkan hasil yang efektif.

Membangun kesehatan mental tidak selalu dengan mengubah pikiran. Terkadang, dengan beberapa perubahan fisik secara rutin dapat membantu dalam melatih otak dan menyembuhkan pikiran.

Diterjemahkan dari : https://www.psychologytoday.com/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201611/5-active-ways-build-mental-strength

 

 

 

Advertisements
Posted in balikpapan, keluarga, kesehatan mental, pasangan

Apakah Perlu Melanjutkan Hubungan?

breakup-770x470

Beberapa klien telah datang menemui saya dengan pertanyaan yang sama, ”Apakah saya perlu melanjutkan hubungan dengan dia?”. Hubungan tersebut bukan hanya dalam hubungan pacaran, namun juga dalam hubungan pernikahan. Dalam hubungan pacaran, berarti “putus”. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, berarti “cerai”. Kedua-duanya tidak menyenangkan dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Namun, ada kalanya kita perlu tegas berkata “enough is enough” atau “cukup sudah” dalam menjalani suatu hubungan.

Menurut seorang psikoterapis, Kim menyatakan terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa hubungan tidak perlu dilanjutkan. Tanda pertama adalah tidak menjadi diri sendiri. Hal yang biasanya kita sukai dan membuat kita unik/berbeda dari orang lain perlahan-lahan menghilang. Terkadang pasangan kita berusaha mengontrol kita dan mengatakan perilakunya sebagai tanda cinta. Namun, kita tidak benar-benar menjadi diri sendiri, kita berubah menjadi orang yang diinginkan pasangan. Kita mengikuti keinginan pasangan sebagai pengorbanan untuk cinta. Meski begitu, hal tersebut menjadikan kita merasa berat untuk menjalani seuatu hubungan.

Tanda kedua adalah perlu membuktikan diri kita berharga secara terus-menerus di depannya. Dalam suatu hubungan, kita perlu merasa nyaman, aman, dihargai, dihormati, dan disayangi. Jika kita merasa sebaliknya, berarti kita tidak berharga di depannya. Hal lain yang membuat kita merasa tidak berharga adalah pendapat kita tidak didengarkan, pasangan tidak mendukung mimpi kita, jarang berbicara tentang diri kita, pasangan tidak memahami, tidak mempedulikan dan sebagainya. Dalam suatu hubungan, pasangan perlu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Tanda ketiga adalah menjalani rutinitas dari suatu hubungan, namun tidak memiliki semangat ketika menjalani hubungan.  Contohnya, kita tahu kapan perlu membeli hadiah untuk tanggal penting, tahu kapan makan malam bersama, tahu hal kesukaannya, namun diri sendiri merasa hampa. Jika semua berjalan rutin dan hanya untuk membahagiakan pasangan, berarti hubungan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Keempat, jika harapan dan kebutuhan kita tidak terpenuhi dalam suatu hubungan, maka kita perlu berpikir kembali apakah perlu menjalani hubungan tersebut. Kita tentu berharap pasangan bisa diajak untuk kompromi dalam menjalani suatu hubungan. Sayangnya jika pasangan tidak dapat diajak kompromi, kita akan semakin jauh dari diri kita yang sesungguhnya.

 

 

Posted in anak, bullying, keluarga, kesehatan mental, psikologi, remaja

Stop Bullying

Akhir-akhir ini, perilaku bullying atau ”perundungan” kembali menjadi perbicangan hangat di dunia maya, khususnya di media sosial. Ada dua kejadian yang memicu perbincangan hangat tersebut, yaitu di sebuah universitas swasta di Depok dan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Peristiwa bullying itu tentunya membuat geram pengguna internet, terutama yang telah merasakan menjadi orang tua. Mereka tampak menyayangkan, mengecam, bahkan ingin membalas pelaku bullying tersebut karena membayangkan bagaimana jika anak mereka mendapatkan perilaku yang serupa.

Menurut penulis buku tentang Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah, Riana Cahyani, perilaku bullying bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Hampir semua orang pernah melihat atau bahkan mengalami bully, entah sebagai korban atau pelaku. Bahkan KPAI pada tahun 2015 meyebutkan bahwa hampir semua pelajar di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Walaupun terjadi konflik dan terkadang muncul perilaku kekerasan, perilaku bullying berbeda dengan konflik biasa yang dialami oleh dua pihak. Pada kasus bullying, ada satu pihak yang merasa senang, sedangkan pihak yang lain merasa sedih, marah atau sakit hati. Hal lain yang membedakan adalah peristiwa mengalami pengulangan dalam kurun waktu tertentu dengan korban dan pelaku yang sama. Posisi dan kekuatan kedua pihak pun tidak setara. Salah satu pihak hampir tidak mungkin menghentikan atau membalas pihak yang lain. Korban terlalu takut dan cemas untuk melawan balik.

Korban bullying bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menjadi korban. Menyebar gosip, menirukan, mengejek, membuat lelucon hinaan, menghasut orang lain dengan tujuan mengucilkan, dan cyberbullying merupakan contoh perilaku bullying yang terjadi pada orang dewasa. Banyak peneitian yang telah dilakukan tentang dampak bullying. Korban dapat mengalami tidak nyaman, cemas, selalu merasa takut, dan merasa tidak berdaya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, bisa membuat korban menjadi seorang pembunuh atau malah bunuh diri (Anesty, 2009).

Sebagai pihak yang memahami tentang dampak bullying, kita perlu berhati-hati terhadap perilaku kita. Jangan sampai kita sendiri yang menjadi pelaku bullying karena pernah memukul, merusak barang, mengejek dan berkata kasar kepada orang lain. Jika kita melihat orang lain di-bully, kita perlu menghentikan dan memberikan peringatan kepada pelaku dengan cara yang asertif. Kita pun perlu menemani korban agar tidak merasa sendirian atau tidak berdaya saat menghadapi pelaku. Hal ini karena pelaku seringkali mencari orang yang lemah dan tidak bisa membela dirinya.

Sebenarnya pelaku bullying perlu mendapatkan pendampingan secara psikologis untuk menghentikan perilakunya karena perilaku mereka seringkali dipicu oleh masalah pribadi. Beberapa faktor penyebab adalah hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga, salah asuh atau pernah menjadi korban/saksi mata (Cahyani, 2017). Ketika hubungan dengan keluarga kurang harmonis, hal ini dapat menimbulkan frustrasi pada diri seseorang yang akhirnya ditimpakan pada orang lain yang terlihat lemah dan mudah digertak. Salah asuh juga menjadi faktor penyebab karena orang tua tidak mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain atau tidak memberi batasan mana yang boleh/tidak boleh sehingga memperlakukan orang lain sesuka hati. Seseorang yang pernah berada dalam posisi sebagai korban/saksi mata pun dapat berpotensi menjadi pelaku bullying. Misalnya, seseorang meniru dari perilaku orang tua atau lingkungan rumah yang melakukan kekerasan secara terus menerus. Arahkan pelaku bullying ini untuk menyelesaikan masalah pribadinya serta dampingi mereka agar mereka dapat belajar perilaku yang lebih positif terhadap orang lain.

 Dimuat di koran Kaltim Post 

Posted in balikpapan, keluarga, komunikasi, pasangan, pernikahan, psikologi

Menjalin Komunikasi Romantis dengan Pasangan

​Ketika memasuki gerbang pernikahan, sebagian pasangan mengharapkan hubungan yang romantis, harmonis, awet dan langgeng. Namun suatu hubungan tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan komitmen semula. Ada kalanya hubungan tak semanis dan seindah yang diharapkan. Seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, muncul permasalahan dan hubungan pasangan pun menjadi renggang. Terlebih lagi, saat anggota keluarga bertambah sehingga menyita perhatian, waktu, dan energi pasangan. 

Tanpa adanya kontak dan komunikasi diantara pasangan, hidup berumah tangga mudah mengalami keretakan. Mitos populer yang beredar tentang komunikasi, yaitu ketika sudah berbicara dengan pasangan berarti kita sudah berkomunikasi. Misalnya, “Sudah makan? Bagaimana kegiatanmu hari ini?”. Padahal pembicaraan tersebut masih dangkal dan membahas hal-hal yang tampak saja. Komunikasi yang diharapkan dari pasangan suami istri adalah pembicaraan yang lebih mendalam dan dapat menyampaikan pesan dengan leluasa. Pasangan suami istri sebaiknya mengetahui hal yang tidak disukai atau yang tidak disukai. Kebiasaan, sifat, harapan dan keinginan pasangan juga perlu dibicarakan satu sama lain. Hindari untuk menebak-nebak keinginan pasangan dan berharap pasangan mengerti tanpa perlu diberitahu.   

Permasalahan lain yang sering dikeluhkan para istri dalam komunikasi dengan pasangan adalah suami yang sudah berkurang kadar romantisnya atau bahkan tidak romantis sejak awal menikah. Jadi, bagaimana cara untuk berkomunikasi romantis dengan suami? Sebelum kita menuntut suami untuk berkomunikasi romantis, hal yang perlu dilakukan adalah menunjukkan komunikasi romantis tersebut kepada suami terlebih dahulu. Jangan segan atau gengsi untuk mengulang ucapan dan perilaku yang diinginkan kepada suami setiap hari, perlahan-lahan suami akan berusaha melakukan hal yang sama. Kalaupun romantisme sudah ditunjukkan oleh suami namun belum sesuai dengan keinginan istri, maka coba komunikasikan tanpa perlu memaksa atau menuntut secara terus menerus. Misalnya, sekedar ingin makan bersama, mendengar sapaan, atau meminta hadiah. Perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat. 

Terkadang suami berperilaku kurang romantis karena memang tidak memiliki contoh romantis dari lingkungan ia dibesarkan. Mungkin saja ia dibesarkan di lingkungan yang keras untuk bertahan hidup sehingga wajar jika tidak paham cara untuk berperilaku romantis. Hindari membanding-bandingkan dengan tipe suami yang lain karena dapat memicu permasalahan baru. Para suami terkadang perlu diyakinkan bahwa romantisme perlu tetap ditunjukkan pada istri meski usia pernikahan terus bertambah. 

Sesekali menghabiskan waktu berdua, tanpa anak dan gawai, diperlukan untuk menumbuhkan romantisme antar pasangan. Luangkan waktu untuk berkomunikasi. Tingkatkan kemampuan komunikasi pasangan dengan lebih banyak mendengar dalam keadaan emosi yang sedang tenang. Selain itu, perhatikan bahasa tubuh (non verbal) dari pasangan, seperti nada suara, kontak mata, jarak berbicara dan sebagainya. Bahasa tubuh ini memberikan kita lebih banyak informasi dibandingkan hal yang sedang dibicarakan. Selain itu, adanya perhatian kepada pasangan dengan cara memberikan pesan singkat, hadiah atau kejutan dapat mengembangkan komunikasi romantis. Jangan lupa berikan pujian pada pasangan karena mau berjuang dalam satu rumah tangga hingga saat ini.  

http://kaltim.prokal.co/read/news/298694-komunikasi-romantis.html

Posted in balikpapan, depresi, kecemasan, keluarga, kesehatan mental, manajemen emosi, psikologi

​Waspada terhadap Baby blues dan Postpartum Depression  

Kaltim Post, 6 Februari 2017

Kelahiran anak merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan, namun sebagian besar ibu belum memahami dan menyadari tentang baby blues setelah kelahiran. Sebagian besar ibu, yaitu 50 hingga 80 persen, akan mengalami naik turunnya emosi yang dikenal sebagai baby blues. Mengapa  baby blues dapat terjadi? Hal ini karena jumlah hormon yang membantu selama kehamilan, seperti hormon progesteron dan estrogen, turun drastis setelah kelahiran. Turunnya jumlah hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan mood, mudah mengeluh, kelelahan, kebingungan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan kurang tidur dan perubahan hidup menjadi orang tua, membuat masa awal memiliki bayi menjadi sangat melelahkan.    

 
Beda baby blues dan postpartum depression 

Baby blues dapat dikatakan normal, jika seorang ibu merasa tidak nyaman namun dalam kadar yang sedikit dan sementara. Baby blues akan hilang dalam dua minggu setelah kelahiran. Walaupun begitu, jika dua minggu gejala-gejala ringan tersebut masih belum hilang, maka akan disebut sebagai Postpartum Depression (PPD). PPD merupakan hal yang serius dan diharapkan menemui ahli yang memahami tentang postpartum depression. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin cepat ibu pulih dari PPD. Jika ibu dan lingkungan sekitar tidak menyadari tentang PPD, maka menjadi gangguan kronis. Sebanyak 25 persen ibu yang tidak mendapatkan penanganan, dapat mengalami depresi selama 1 tahun. 

 PPD juga dapat terjadi jika tanda cukup parah sehingga ibu tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal, meski tanda-tanda tersebut terjadi selama dua minggu pertama setelah kelahiran. Tanda-tanda yang ditemukan adalah kehilangan selera makan, sulit tidur, merasa tidak berguna, tidak dapat berkonsentrasi, cemas, marah, sangat sedih, kurang percaya diri, lelah dan kurang energi.  

PPD dapat dialami oleh 15 persen ibu (1 dari 7) di seluruh dunia. Penyebab PPD bukan hanya karena turunnya jumlah hormon yang akhirnya mempengaruhi neurotransmitter di otak, namun juga karena faktor psikososial seperti pindah rumah, sakit, kurang dukungan pasangan, masalah keuangan dan isolasi dari lingkungan sekitar. Hal ini mempengaruhi keadaan emosi seorang ibu. Kurangnya tidur, nutrisi yang cukup dan sehat juga dapat menyebabkan PPD.  

Pencegahan 

Untuk mencegah baby blues dan post partum depression, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: 

a. Lakukan persiapan fisik dan mental yang matang sebelum melahirkan. Selesaikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, misalnya dengan pasangan atau orang tua. Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang bisa dilakukan setelah melahirkan dan berusaha konsisten dengan kesepakatan tersebut. 

b. Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan bayi sebelum melahirkan. Pengetahuan tersebut bisa didapat melalui buku, majalah, dan website. Ayah dan ibu perlu menentukan metode yang akan digunakan saat melahirkan dan perawatan bayi yang diinginkan, terlepas dari pendapat orang tua, tetangga, dan teman. Usahakan ayah dan ibu paham betul cara merawat bayi.  

c. Dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat penting. Banyak berkomunikasi pada pasangan. Ayah juga diharapkan memahami kondisi ibu setelah melahirkan. Jika ada pihak lain yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus rumah tangga maka akan meringankan beban ibu. Tidak perlu malu dan ragu untuk meminta bantuan orang lain jika merasa kewalahan.  

d. Ibu memerlukan kondisi fisik dan mental yang sehat untuk mengasuh bayi. Beristirahatlah dengan memanfaatkan jam tidur bayi atau ketika ada bantuan orang lain. Dengan beristirahat akan mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Jangan lupa menjaga pola makan dan nutrisi agar ibu tidak mudah letih serta sakit. 

e. Sadari bahwa ibu tidak sendiri, carilah teman-teman yang nyaman untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teman-teman yang saling mendukung dan dapat berbagi energi positif untuk ibu. 

f. Selalu berdoa untuk kesehatan diri dan keluarga, agar terhindar dari baby blues, postpartum depression, serta gangguan mental lainnya. 

Posted in keluarga, kesehatan mental, pernikahan, psikologi, Uncategorized

Bimbingan Pra Nikah

BIMBINGAN PRA NIKAH (tersedia di klinik Fajar Farma)


Persiapan Menuju Pernikahan Sakinah

Pemateri : Sarwendah Indrarani, M. Psi, Psikolog

Materi :
1. Tujuan dan Harapan Pernikahan
2. Mitos dan Fakta dalam Pernikahan
3. Sumber Konflik dengan Pasangan

Investasi :
Rp 300.000,- per pasangan. 1 pertemuan, 3 jam.

Registrasi dan informasi :

Klinik Fajar Farma

Jl. Indrakila Ruko No. 17J RT. 32 Kampung Timur, Balikpapan Utara
No. Telp: (0542) 8860836 atau 0821 5949 9446

Bimbingan Pranikah dengan membuat perjanjian sebelumnya

Kasus perceraian di Kota Balikpapan dari tahun ke tahun kian meningkat. Beberapa faktor penyebab perceraian adalah munculnya orang ketiga dan tidak adanya tanggung jawab suami. Penyebab lain adalah kurang dewasanya pihak pasangan dan adanya intervensi dari pihak lain. Tercatat pada tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2015, kasus perceraian semakin meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus talak 504 kasus, sedangkan kasus gugatan cerai mencapai 1.016 kasus. Tahun 2014, kasus talak berjumlah 467 dan gugatan cerai mencapai 1.093. Sedangkan pada Juni 2015, kasus talak mencapai 236 dan kasus gugatan cerai mencapai 611 (http://balikpapan.prokal.co/read/news/168076-kasus-cerai-didominasi-pasangan-muda).

Data-data tersebut menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang mungkin muncul dalam sebuah pernikahan dan pasangan yang kurang mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan. Bukan mempersiapkan tentang prosesi pernikahan atau acara pestanya, namun lebih ke pada pemahaman akan makna pernikahan dan keterampilan menghadapi pasangan. Sebagian mungkin masih terbuai dengan indahnya pernikahan yang digambarkan di film atau cerita dongeng. Pernikahan digambarkan hanya berisi kebahagiaan, mencintai dan dicintai pasangan untuk selama-lamanya. Pernikahan digambarkan begitu ideal, bahkan seperti kapal penyelamat kehidupan yang selama ini mungkin tampak menyedihkan atau hambar. 

Banyak pasangan yang belum siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang bisa menguatkan hubungan mereka. Bahkan terkadang mereka belum mengenal diri sendiri dan mengenal kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa pasangan perlu untuk mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan yang ada dan membuat kesepakatan. Mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah lebih baik daripada mengalami konflik setelah menikah. Hal ini karena satu konflik saja yang terjadi setelah menikah bisa berujung perceraian. 

Menikah bukanlah hal yang mudah. Menjadi suami atau istri yang baik juga bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan pranikah sebagai bekal ilmu bagi pasangan tersebut. Bimbingan pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah. Konseling pranikah diberikan oleh psikolog atau konselor pernikahan. Konselor bukanlah orang yang akan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Ia hanya orang ketiga yang menjadi perantara dan menyodorkan cara pandang lain dalam melihat hubungan mereka. 

Tujuan Bimbingan Pranikah :

  • Meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan.
  • Membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian.
  • Bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki  pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.

    Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

    Manajemen Emosi Bagi Ibu

    koran-1

    Kaltim Post, Desember 2016

    “Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
    tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
    tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
    kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
    bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
    tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
    berada dalam posisi tersebut?

    Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
    Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
    tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
    mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
    marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
    dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
    menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
    Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
    Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
    tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
    serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

    Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
    tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
    mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
    kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
    peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
    waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
    menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
    Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
    kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
    tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
    memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
    dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
    Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

    Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
    besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
    dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
    perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
    karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
    atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
    Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
    yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
    tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
    bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
    tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

    Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
    yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
    memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
    tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
    merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
    kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
    bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
    membalas dendam.

    Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
    negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
    menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
    1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
    emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
    dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
    menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
    masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
    Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
    sedikit demi sedikit.

    Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
    memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
    hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
    keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
    anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
    dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
    Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
    atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
    pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
    dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
    1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
    senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
    karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
    untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

    Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

    pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
    tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
    membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
    dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
    bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
    sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
    sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
    membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
    orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
    a village to raise a child.

    Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
    emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
    lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
    raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
    dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
    penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
    memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
    selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
    lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
    bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
    mengurangi perasaan tidak nyaman.

    Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
    masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
    dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
    mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.

    Posted in pernikahan

    Mengapa Selingkuh?

    2016-08-02 11.17.25

    Kaltim Post, 2 Agustus 2016

    Pada masa sekarang ini, perselingkuhan telah menjadi suatu isu yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Penelitian yang dilakukan di Amerika pada tahun 2008, memperkirakan 10-25% pasangan yang telah menikah setidaknya pernah satu kali selingkuh. Awalnya, perilaku selingkuh yang tampak hanya dilakukan oleh
    kalangan pria. Namun seiring dengan kemajuan jaman, wanita juga berani melakukan perselingkuhan dalam pernikahannya. Penelitian Blumstein & Schwartz pada tahun 1990 menunjukkan 11% dari pria dan 9% dari wanita yang telah menikah dilaporkan berselingkuh. Sedangkan Data Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2006
    menunjukkan dari 9 kasus perceraian akibat perselingkuhan, 7 diantaranya dilakukan oleh wanita yang melakukan perselingkuhan dengan pria lain.
    Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terjadinya perceraian. Berdasarkan data perceraian yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah
    Agung (Ditjen Badilang MA) pada tahun 2010, perselingkuhan menjadi urutan kedua setelah faktor ekonomi sebagai penyebab perceraian, yaitu sebanyak 20.199 dari 285.184 kasus perceraian. Berdasarkan data tersebut dapat diartikan dari 10 keluarga, satu keluarga bercerai disebabkan karena perselingkuhan. Jadi, mengapa banyak terjadi perselingkuhan?
    Terdapat beragam penyebab mengapa seseorang berselingkuh, namun kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa suami atau istrinya kurang dapat memuaskan dalam hal emosional atau seksual. Sebaliknya, pasangan selingkuhnya dapat memenuhi kebutuhan emosional dan seksualnya. Semakin besar ketidakpuasan terhadap suami atau istri, maka mereka akan semakin berusaha mendekati pasangan selingkuhnya.
    Penyebab lainnya adalah pasangan berusaha untuk setara atau sama dalam beberapa karakteristik, termasuk pendidikan, pendapatan, menarik secara fisik, pandangan religius, minat dan perilaku. Pasangan yang kurang sesuai dalam satu sama lain dalam karakter-karakter yang penting rentan mengalami perselingkuhan, mungkin karena mengalami ketidakpuasan dengan pasangannya. Contohnya,
    pasangan dengan tingkat pendidikan yang setara dan memiliki minat yang sama jarang mengalami perselingkuhan. Dengan mencari kesamaan dengan pasangan dan saling
    menyesuaikan diri dapat terhindar dari perselingkuhan.
    Pada masa sekarang, pria dan wanita sama-sama dapat melakukan perselingkuhan. Bahkan terdapat kemungkinan bahwa wanita dengan status sosioekonomi yang lebih tinggi dapat menunjukkan ketidaksetiaan terhadap pasangan. Misalnya, wanita memiliki pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik daripada suami mereka. Mereka tidak takut untuk berpisah atau bercerai dari suami mereka karena dapat membiayai diri sendiri.
    Jadi, bagaimana menghindarkan diri dari perselingkuhan? Dengan berbagai problematika rumah tangga yang ada, pasangan perlu untuk dekat dan saling membahagiakan satu sama lain. Terkadang seorang istri terlalu sibuk memperhatikan anak atau menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sehingga lupa memperhatikan suami. Secara emosional, seorang suami senang jika dihargai oleh istrinya atas kerja kerasnya selama ini. Oleh karena itu, berikan perhatian dan pujian. Sediakan waktu untuk berdua dan berkomunikasi satu sama lain. Jika perlu saling memberi hadiah agar pernikahan tetap harmonis.