Posted in balikpapan, depresi, insomnia, kecemasan, kesehatan mental, psikologi, relaksasi, sulit tidur

Membangun Kekuatan Mental

mental-health-stickers

Telah banyak diketahui bahwa terdapat hubungan erat antara pikiran dan tubuh, yang berarti pula terdapat hubungan antara kesehatan fisik dan mental. Jika kita merasa kurang nyaman dan kita tidak tahu sebabnya, terkadang hal yang perlu kita lakukan adalah melakukan perubahan secara fisik, bukan hanya mengubah pikiran. Memberi saran untuk “berpikir positif” terkadang kurang mengena untuk sebagian orang.  Tips berikut dapat dilakukan untuk membangun kekuatan mental melalui fisik kita:

  1. Berjalan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi cara yang efektif untuk membantu menyelesaikan masalah mental. Dengan berjalan 30 menit setiap hari dapat mengurangi depresi dan meningkatkan kualitas hidup. Manfaat berjalan bukan hanya untuk orang yang depresi, namun juga orang yang sehat.
  2. Tersenyum. Penelitian juga menemukan bahwa senyuman dapat membantu meningkatkan rasa nyaman. Sebaliknya, merengutkan dahi dapat meningkatkan rasa tidak nyaman/sakit. Denyut jantung dapat berdetak lebih pelan jika kita tersenyum saat menghadapi peristiwa yang penuh stres, walaupun kita sedang tidak merasa senang. Kita dapat berpikir tentang tempat yang membuat kita senang atau hal lucu ketika sedang menjalani prosedur yang menyakitkan. Hal tersebut dapat mengurangi rasa sakit.
  3.  Tarik napas panjang untuk meningkatkan konsentrasi. Tarik nafas dilakukan beberapa menit dan sambil menghitung tarikan nafas akan membantu ketika menghadapi banyak tugas.
  4. Berlatih beban. Hal tersebut dapat mengurangi kecemasan, takut, dan khawatir. Tanpa adanya intervensi, kecemasan dapat membuat kurang tidur, rasa sakit, kurang sehat dan terbatas secara fisik. Tidak perlu berlatih angkat beban yang berat, lakukan yang ringan atau sedang untuk mendapatkan hasil yang efektif.

Membangun kesehatan mental tidak selalu dengan mengubah pikiran. Terkadang, dengan beberapa perubahan fisik secara rutin dapat membantu dalam melatih otak dan menyembuhkan pikiran.

Diterjemahkan dari : https://www.psychologytoday.com/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201611/5-active-ways-build-mental-strength

 

 

 

Advertisements
Posted in balikpapan, keluarga, kesehatan mental, pasangan

Apakah Perlu Melanjutkan Hubungan?

breakup-770x470

Beberapa klien telah datang menemui saya dengan pertanyaan yang sama, ”Apakah saya perlu melanjutkan hubungan dengan dia?”. Hubungan tersebut bukan hanya dalam hubungan pacaran, namun juga dalam hubungan pernikahan. Dalam hubungan pacaran, berarti “putus”. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, berarti “cerai”. Kedua-duanya tidak menyenangkan dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Namun, ada kalanya kita perlu tegas berkata “enough is enough” atau “cukup sudah” dalam menjalani suatu hubungan.

Menurut seorang psikoterapis, Kim menyatakan terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa hubungan tidak perlu dilanjutkan. Tanda pertama adalah tidak menjadi diri sendiri. Hal yang biasanya kita sukai dan membuat kita unik/berbeda dari orang lain perlahan-lahan menghilang. Terkadang pasangan kita berusaha mengontrol kita dan mengatakan perilakunya sebagai tanda cinta. Namun, kita tidak benar-benar menjadi diri sendiri, kita berubah menjadi orang yang diinginkan pasangan. Kita mengikuti keinginan pasangan sebagai pengorbanan untuk cinta. Meski begitu, hal tersebut menjadikan kita merasa berat untuk menjalani seuatu hubungan.

Tanda kedua adalah perlu membuktikan diri kita berharga secara terus-menerus di depannya. Dalam suatu hubungan, kita perlu merasa nyaman, aman, dihargai, dihormati, dan disayangi. Jika kita merasa sebaliknya, berarti kita tidak berharga di depannya. Hal lain yang membuat kita merasa tidak berharga adalah pendapat kita tidak didengarkan, pasangan tidak mendukung mimpi kita, jarang berbicara tentang diri kita, pasangan tidak memahami, tidak mempedulikan dan sebagainya. Dalam suatu hubungan, pasangan perlu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Tanda ketiga adalah menjalani rutinitas dari suatu hubungan, namun tidak memiliki semangat ketika menjalani hubungan.  Contohnya, kita tahu kapan perlu membeli hadiah untuk tanggal penting, tahu kapan makan malam bersama, tahu hal kesukaannya, namun diri sendiri merasa hampa. Jika semua berjalan rutin dan hanya untuk membahagiakan pasangan, berarti hubungan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Keempat, jika harapan dan kebutuhan kita tidak terpenuhi dalam suatu hubungan, maka kita perlu berpikir kembali apakah perlu menjalani hubungan tersebut. Kita tentu berharap pasangan bisa diajak untuk kompromi dalam menjalani suatu hubungan. Sayangnya jika pasangan tidak dapat diajak kompromi, kita akan semakin jauh dari diri kita yang sesungguhnya.

 

 

Posted in balikpapan, keluarga, komunikasi, pasangan, pernikahan, psikologi

Menjalin Komunikasi Romantis dengan Pasangan

​Ketika memasuki gerbang pernikahan, sebagian pasangan mengharapkan hubungan yang romantis, harmonis, awet dan langgeng. Namun suatu hubungan tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan komitmen semula. Ada kalanya hubungan tak semanis dan seindah yang diharapkan. Seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, muncul permasalahan dan hubungan pasangan pun menjadi renggang. Terlebih lagi, saat anggota keluarga bertambah sehingga menyita perhatian, waktu, dan energi pasangan. 

Tanpa adanya kontak dan komunikasi diantara pasangan, hidup berumah tangga mudah mengalami keretakan. Mitos populer yang beredar tentang komunikasi, yaitu ketika sudah berbicara dengan pasangan berarti kita sudah berkomunikasi. Misalnya, “Sudah makan? Bagaimana kegiatanmu hari ini?”. Padahal pembicaraan tersebut masih dangkal dan membahas hal-hal yang tampak saja. Komunikasi yang diharapkan dari pasangan suami istri adalah pembicaraan yang lebih mendalam dan dapat menyampaikan pesan dengan leluasa. Pasangan suami istri sebaiknya mengetahui hal yang tidak disukai atau yang tidak disukai. Kebiasaan, sifat, harapan dan keinginan pasangan juga perlu dibicarakan satu sama lain. Hindari untuk menebak-nebak keinginan pasangan dan berharap pasangan mengerti tanpa perlu diberitahu.   

Permasalahan lain yang sering dikeluhkan para istri dalam komunikasi dengan pasangan adalah suami yang sudah berkurang kadar romantisnya atau bahkan tidak romantis sejak awal menikah. Jadi, bagaimana cara untuk berkomunikasi romantis dengan suami? Sebelum kita menuntut suami untuk berkomunikasi romantis, hal yang perlu dilakukan adalah menunjukkan komunikasi romantis tersebut kepada suami terlebih dahulu. Jangan segan atau gengsi untuk mengulang ucapan dan perilaku yang diinginkan kepada suami setiap hari, perlahan-lahan suami akan berusaha melakukan hal yang sama. Kalaupun romantisme sudah ditunjukkan oleh suami namun belum sesuai dengan keinginan istri, maka coba komunikasikan tanpa perlu memaksa atau menuntut secara terus menerus. Misalnya, sekedar ingin makan bersama, mendengar sapaan, atau meminta hadiah. Perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat. 

Terkadang suami berperilaku kurang romantis karena memang tidak memiliki contoh romantis dari lingkungan ia dibesarkan. Mungkin saja ia dibesarkan di lingkungan yang keras untuk bertahan hidup sehingga wajar jika tidak paham cara untuk berperilaku romantis. Hindari membanding-bandingkan dengan tipe suami yang lain karena dapat memicu permasalahan baru. Para suami terkadang perlu diyakinkan bahwa romantisme perlu tetap ditunjukkan pada istri meski usia pernikahan terus bertambah. 

Sesekali menghabiskan waktu berdua, tanpa anak dan gawai, diperlukan untuk menumbuhkan romantisme antar pasangan. Luangkan waktu untuk berkomunikasi. Tingkatkan kemampuan komunikasi pasangan dengan lebih banyak mendengar dalam keadaan emosi yang sedang tenang. Selain itu, perhatikan bahasa tubuh (non verbal) dari pasangan, seperti nada suara, kontak mata, jarak berbicara dan sebagainya. Bahasa tubuh ini memberikan kita lebih banyak informasi dibandingkan hal yang sedang dibicarakan. Selain itu, adanya perhatian kepada pasangan dengan cara memberikan pesan singkat, hadiah atau kejutan dapat mengembangkan komunikasi romantis. Jangan lupa berikan pujian pada pasangan karena mau berjuang dalam satu rumah tangga hingga saat ini.  

http://kaltim.prokal.co/read/news/298694-komunikasi-romantis.html

Posted in balikpapan, depresi, kecemasan, keluarga, kesehatan mental, manajemen emosi, psikologi

​Waspada terhadap Baby blues dan Postpartum Depression  

Kaltim Post, 6 Februari 2017

Kelahiran anak merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan, namun sebagian besar ibu belum memahami dan menyadari tentang baby blues setelah kelahiran. Sebagian besar ibu, yaitu 50 hingga 80 persen, akan mengalami naik turunnya emosi yang dikenal sebagai baby blues. Mengapa  baby blues dapat terjadi? Hal ini karena jumlah hormon yang membantu selama kehamilan, seperti hormon progesteron dan estrogen, turun drastis setelah kelahiran. Turunnya jumlah hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan mood, mudah mengeluh, kelelahan, kebingungan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan kurang tidur dan perubahan hidup menjadi orang tua, membuat masa awal memiliki bayi menjadi sangat melelahkan.    

 
Beda baby blues dan postpartum depression 

Baby blues dapat dikatakan normal, jika seorang ibu merasa tidak nyaman namun dalam kadar yang sedikit dan sementara. Baby blues akan hilang dalam dua minggu setelah kelahiran. Walaupun begitu, jika dua minggu gejala-gejala ringan tersebut masih belum hilang, maka akan disebut sebagai Postpartum Depression (PPD). PPD merupakan hal yang serius dan diharapkan menemui ahli yang memahami tentang postpartum depression. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin cepat ibu pulih dari PPD. Jika ibu dan lingkungan sekitar tidak menyadari tentang PPD, maka menjadi gangguan kronis. Sebanyak 25 persen ibu yang tidak mendapatkan penanganan, dapat mengalami depresi selama 1 tahun. 

 PPD juga dapat terjadi jika tanda cukup parah sehingga ibu tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal, meski tanda-tanda tersebut terjadi selama dua minggu pertama setelah kelahiran. Tanda-tanda yang ditemukan adalah kehilangan selera makan, sulit tidur, merasa tidak berguna, tidak dapat berkonsentrasi, cemas, marah, sangat sedih, kurang percaya diri, lelah dan kurang energi.  

PPD dapat dialami oleh 15 persen ibu (1 dari 7) di seluruh dunia. Penyebab PPD bukan hanya karena turunnya jumlah hormon yang akhirnya mempengaruhi neurotransmitter di otak, namun juga karena faktor psikososial seperti pindah rumah, sakit, kurang dukungan pasangan, masalah keuangan dan isolasi dari lingkungan sekitar. Hal ini mempengaruhi keadaan emosi seorang ibu. Kurangnya tidur, nutrisi yang cukup dan sehat juga dapat menyebabkan PPD.  

Pencegahan 

Untuk mencegah baby blues dan post partum depression, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: 

a. Lakukan persiapan fisik dan mental yang matang sebelum melahirkan. Selesaikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, misalnya dengan pasangan atau orang tua. Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang bisa dilakukan setelah melahirkan dan berusaha konsisten dengan kesepakatan tersebut. 

b. Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan bayi sebelum melahirkan. Pengetahuan tersebut bisa didapat melalui buku, majalah, dan website. Ayah dan ibu perlu menentukan metode yang akan digunakan saat melahirkan dan perawatan bayi yang diinginkan, terlepas dari pendapat orang tua, tetangga, dan teman. Usahakan ayah dan ibu paham betul cara merawat bayi.  

c. Dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat penting. Banyak berkomunikasi pada pasangan. Ayah juga diharapkan memahami kondisi ibu setelah melahirkan. Jika ada pihak lain yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus rumah tangga maka akan meringankan beban ibu. Tidak perlu malu dan ragu untuk meminta bantuan orang lain jika merasa kewalahan.  

d. Ibu memerlukan kondisi fisik dan mental yang sehat untuk mengasuh bayi. Beristirahatlah dengan memanfaatkan jam tidur bayi atau ketika ada bantuan orang lain. Dengan beristirahat akan mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Jangan lupa menjaga pola makan dan nutrisi agar ibu tidak mudah letih serta sakit. 

e. Sadari bahwa ibu tidak sendiri, carilah teman-teman yang nyaman untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teman-teman yang saling mendukung dan dapat berbagi energi positif untuk ibu. 

f. Selalu berdoa untuk kesehatan diri dan keluarga, agar terhindar dari baby blues, postpartum depression, serta gangguan mental lainnya. 

Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

Manajemen Emosi Bagi Ibu

koran-1

Kaltim Post, Desember 2016

“Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
berada dalam posisi tersebut?

Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
membalas dendam.

Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
sedikit demi sedikit.

Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
a village to raise a child.

Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
mengurangi perasaan tidak nyaman.

Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.

Posted in balikpapan, kecemasan, mengelola, psikologi

Memahami tentang kecemasan

image

Dalam kehidupan seseorang, perasaan cemas dapat muncul kapan saja. Dalam bentuk paling ringan, perasaan cemas dapat memacu kita untuk berpikir dan merencanakan sesuatu di masa depan. Hanya saja jika berlebihan, perasaan cemas dapat berubah menjadi hal yang menyebalkan dan mengganggu. Kecemasan yang berlebihan juga dapat mempengaruhi produktivitas, konsentrasi, dan mood. Bahkan, kecemasan yang berlangsung secara terus menerus dapat mengganggu hubungan dan hubungan sosial.

Cemas merupakan reaksi normal terhadap situasi yang penuh tekanan. Walaupun begitu, pada kasus-kasus tertentu rasa cemas muncul secara terus-menerus dan memperbesar masalah. Biasanya rasa cemas muncul pertama kali ketika masa kanak-kanak. Penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis dan lingkungan berkontribusi terhadap gangguan kecemasan. Sebagian orang memiliki kecenderungan genetis hingga dapat muncul rasa cemas yang berlebihan. Walaupun begitu, pengalaman traumatis pada usia dini dapat mengubah proses tubuh yang normal menjadi reaktif atau berlebihan dalam menghadapi stres.       

Tanda-tanda Kecemasan

Berbagai tanda cemas dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu
fisik, pemikiran, perilaku, emosi dan interpersonal. Tanda fisik
yang muncul adalah meningkatnya detak jantung, Aliran darah 
kemudian mengencangkan otot-otot tubuh, terutama bagian kaki dan tangan. Bulu kuduk berdiri, berkeringat, muka memerah, perut kram juga merupakan tanda fisik yang muncul ketika timbul rasa cemas.

Secara kognitif, tanda cemas tampak dari bagaimana kita mengkhawatirkan pemikiran atau penilaian orang lain. Orang yang cemas takut dinilai sebagai orang yang membosankan, tidak mampu atau tidak menarik. Mereka juga cenderung melebih-lebihkan kemungkinan munculnya peristiwa negatif, bahkan merasa merasa tidak mampu untuk menanggulangi jika muncul masalah. Contohnya, mereka terlalu khawatir jika salah seorang teman meninggalkan dirinya atau enggan berteman lagi. Kecemasan dapat menyebabkan seseorang kehilangan kepercayaan diri, seperti tidak ada lagi yang mau berteman dengannya.

Tanda cemas jika dilihat dari perilaku adalah penghindaran. 
Orang menghindari situasi atau tingkah laku yang mereka takuti 
dan dapat memicu kecemasan. Mereka takut tidak dapat tampil
sesempurna yang diinginkan, bahkan berusaha menanggulangi 
kecemasan dengan bekerja lebih keras. Banyak tipe gangguan
Kecemasan yang berkaitan dengan memeriksa beberapa kali 
atau sebaliknya tidak ingin memeriksa. Misalnya, seseorang
yang memiliki gangguan makan biasanya cemas terhadap berat
badan mereka sehingga lebih sering menimbang berat badan atau
sebaliknya menghindar ketika mengecek berat badan.

Emosi juga menjadi salah satu tanda cemas. Emosi yang 
berkaitan dengan rasa cemas adalah cepat tersinggung dan 
merasa tidak berdaya. Sedangkan secara interpersonal, orang 
dengan kecemasan sering ingin ditenangkan oleh pasangannya. 
Orang dengan kecemasan pun memiliki ketakutan untuk 
mendekatkan diri atau merasa tidak kompeten dalam 
berhubungan dengan orang lain.

Hal yang dapat dilakukan jika sedang mengalami kecemasan, 
yaitu melakukan kontrol pernafasan dengan cara mengambil 
nafas dalam dan lepaskan secara perlahan-lahan hingga tubuh 
merasa nyaman. Relaksasi juga dapat dilakukan untuk melemaskan
ketegangan yang muncul pada otot-otot tubuh, terutama leher, 
kepala, dan dada. Selain itu, intervensi secara kognitif atau
pemikiran dapat dilakukan dengan mengubah pemikiran-pemikiran
negatif menjadi positif, menghindari pikiran yang tidak realistis. 

Pendekatan terhadap keluarga dengan bercerita dan memecahkan 
masalah bersama-sama dapat pula mengurangi kecemasan. Begitu 
pula dengan olah raga secara teratur agar dapat menyalurkan 
stres dan memberikan rasa nyaman pada diri sendiri. 

Posted in balikpapan, depresi, kesehatan mental, relaksasi

Mengenal tentang Depresi

unnamed

Depresi merupakan gangguan kesehatan yang cukup serius. Sayangnya masyarakat di Indonesia masih belum banyak mengenal dan memahaminya. Dengan meningkatkan kesadaran terhadap depresi, maka kita dapat menyelamatkan banyak jiwa.

Menurut WHO, depresi adalah masalah yang dapat dialami oleh siapapun di dunia, sekitar 350 juta orang pernah mengalaminya. Depresi adalah gangguan mood berupa perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus menerus. Dalam jangka waktu yang lama, depresi dapat mempengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku orang yang mengalaminya hingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Bahkan dalam kasus yang terburuk, dapat menimbulkan perasaan tidak berharga dan mengakibatkan bunuh diri.

Gejala Depresi

Depresi memiliki gejala khas yang tampak dalam gejala psikis, fisik dan sosial. Gejala psikis biasanya berupa kesedihan luar biasa, kehilangan semangat hidup, merasa bersalah dan gagal, kurang percaya diri secara terus-menerus, dan mudah tersinggung. Sedangkan gejala fisik berupa malas beraktivitas, gangguan tidur, nafsu makan terganggu, merasa letih berkepanjangan dan kesulitan berkonsentrasi. Adapun gejala sosial yang tampak merupakan akibat dari gejala psikis dan fisik. Orang yang mudah tersinggung, letih dan mudah sakit akhirnya akan berdampak ketika bereaksi pada lingkungan. Ia akan mudah mengalami konflik dengan orang lain.

Penyebab Depresi

Kondisi depresi dapat timbul ketika seseorang mengalami stress yang tidak kunjung reda. Depresi juga dapat terjadi karena baru mengalami peristiwa dramatis dalam hidup, seperti kehilangan orang yang disayangi dan kehilangan pekerjaan. Selain itu, konflik dengan orang lain atau keluarga secara terus-menerus juga dapat menimbulkan depresi.

Berdasarkan faktor biologis, ada beberapa hal yang dapat berperan terhadap timbulnya depresi yaitu sakit berkepanjangan, efek samping obat, dan perubahan hormonal. Terkait perubahan hormon, wanita yang mengalami monopause, hamil dan melahirkan perlu berhati-hati karena dapat mengalami depresi. Selain itu, depresi dapat terjadi karena penyakit fisik turunan.

Pencegahan dan penanggulangan

Untuk pencegahan depresi, kita perlu belajar untuk mengelola stress sehari-hari. Kita juga perlu mempererat ikatan dengan keluarga dan teman terutama ketika menghadapi krisis. Selain itu, kenali gejala-gejala awal depresi untuk mendapatkan penanganan segera. Untuk menanggulangi, penderita perlu merubah pola hidup, yaitu menjalani hidup dengan lebih teratur. Selain itu, memiliki kemauan untuk menjalani terapi psikologis yang berupa latihan relaksasi dan konseling dengan psikolog. Penderita pun perlu mendapatkan pengobatan secara rutin dari dokter.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post