Posted in kekerasan, pacaran, remaja

Kekerasan Pada Masa Pacaran

11214285_10153436299964522_2840822628861339880_n

Dipublikasikan di Koran Kaltim Post, Kolom Xpresi Juli 2015.

Advertisements
Posted in KDRT, kekerasan, pernikahan

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

IMG_20339338694490Akhir-akhir ini, kita banyak menemukan berbagai berita tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di berbagai media massa. Bahkan tidak jarang, kita menemukan peristiwa KDRT di lingkungan kita. Kemudian, apa yang bisa kita lakukan? Ataupun apakah kita sendiri sudah paham tentang perilaku kekerasan sehingga dapat menghindarinya?

Berdasarkan Undang-Undang No 23/2004, KDRT didefinisikan sebagai perbuatan terhadap seseorang, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan dalam lingkup rumah tangga. Berdasarkan undang-undang tersebut tampak jelas bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan berbagai cara. Jika seseorang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, berarti ia telah melakukan tindakan melawan hukum.

Dampak psikologis pada korban

KDRT dapat menimbulkan dampak yang serius pada korban dan orang terdekatnya. Adanya dampak fisik mungkin lebih mudah terlihat. Misalnya, luka, rasa sakit, kecacatan, kehamilan, keguguran kandungan, dan kematian. Apapun bentuk kekerasannya, selalu ada dampak psikis/psikologis dari KDRT. Dampak psikis dapat dibedakan dalam ”dampak segera” setelah kejadian, serta ”dampak jangka panjang” yang lebih menetap. Dampak segera pada korban, seperti rasa takut dan terancam, kebingungan, tidak berdaya, ketidakmampuan berpikir, konsentrasi, mimpi buruk,dan  kewaspadaan berlebihan. Sedangkan dampak jangka panjang dapat memunculkan trauma atau depresi pada korban. Korban pun dapat berubah menjadi pasif, kurang percaya diri, dan tidak mampu mengambil keputusan.

Penyebab KDRT    

Dalam konteks Indonesia, Soeroso (2010) menyatakan bahwa penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar diri pelaku kekerasan. Individu yang tidak memiliki perilaku agresif dapat melakukan tindak kekerasan bila berhadapan dengan situasi yang menimbulkan frustasi. Misalnya, kelelahan atau beban kerja yang terlalu berat, kesulitan ekonomi yang berkepanjangan, atau perselingkuhan yang dilakukan suami atau istri. Faktor internal menyangkut kepribadian dari pelaku kekerasan yang menyebabkan ia mudah sekali melakukan tindak kekerasan bila menghadapi situasi yang menimbulkan kemarahan dan frustasi. Kepribadian yang agresif biasanya dibentuk melalui interaksi dalam keluarga atau dengan lingkungan sosial di masa lalu.

Kepribadian agresif juga dapat dibentuk karena pengalaman KDRT ketika masa kanak-kanak. Anak-anak saksi atau korban KDRT mengembangkan persepsi yang salah tentang kekerasan. Mereka beranggapan kekerasan sebagai salah  satu cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, padahal banyak cara untuk menyelesaikan sebuah masalah. Anak yang menyaksikan atau mengalami KDRT belajar menggunakan kekerasan untuk mengendalikan orang lain dan mendapatkan kepatuhan dari anggota keluarganya. Jika proses ini dilihat dan dipelajari oleh anak-anaknya dapat membuat sebuah rantai kekerasan yang sulit diputus dari generasi ke generasi.

Kekerasan di dalam rumah tangga dapat terjadi secara singkat, akan tetapi dampaknya begitu besar. Oleh sebab itu, marilah kita berusaha menanamkan nilai anti kekerasan yang dalam lingkungan keluarga kita sendiri. Selain itu, mari ikut mensosialisasikan dampak kekerasan di lingkungan sekitar kita. Dengan adanya perilaku anti kekerasan, diharapkan peristiwa kekerasan dalam rumah tangga dapat dihindari.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post