Posted in balikpapan, keluarga, kesehatan mental, pasangan

Apakah Perlu Melanjutkan Hubungan?

breakup-770x470

Beberapa klien telah datang menemui saya dengan pertanyaan yang sama, ”Apakah saya perlu melanjutkan hubungan dengan dia?”. Hubungan tersebut bukan hanya dalam hubungan pacaran, namun juga dalam hubungan pernikahan. Dalam hubungan pacaran, berarti “putus”. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, berarti “cerai”. Kedua-duanya tidak menyenangkan dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Namun, ada kalanya kita perlu tegas berkata “enough is enough” atau “cukup sudah” dalam menjalani suatu hubungan.

Menurut seorang psikoterapis, Kim menyatakan terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa hubungan tidak perlu dilanjutkan. Tanda pertama adalah tidak menjadi diri sendiri. Hal yang biasanya kita sukai dan membuat kita unik/berbeda dari orang lain perlahan-lahan menghilang. Terkadang pasangan kita berusaha mengontrol kita dan mengatakan perilakunya sebagai tanda cinta. Namun, kita tidak benar-benar menjadi diri sendiri, kita berubah menjadi orang yang diinginkan pasangan. Kita mengikuti keinginan pasangan sebagai pengorbanan untuk cinta. Meski begitu, hal tersebut menjadikan kita merasa berat untuk menjalani seuatu hubungan.

Tanda kedua adalah perlu membuktikan diri kita berharga secara terus-menerus di depannya. Dalam suatu hubungan, kita perlu merasa nyaman, aman, dihargai, dihormati, dan disayangi. Jika kita merasa sebaliknya, berarti kita tidak berharga di depannya. Hal lain yang membuat kita merasa tidak berharga adalah pendapat kita tidak didengarkan, pasangan tidak mendukung mimpi kita, jarang berbicara tentang diri kita, pasangan tidak memahami, tidak mempedulikan dan sebagainya. Dalam suatu hubungan, pasangan perlu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Tanda ketiga adalah menjalani rutinitas dari suatu hubungan, namun tidak memiliki semangat ketika menjalani hubungan.  Contohnya, kita tahu kapan perlu membeli hadiah untuk tanggal penting, tahu kapan makan malam bersama, tahu hal kesukaannya, namun diri sendiri merasa hampa. Jika semua berjalan rutin dan hanya untuk membahagiakan pasangan, berarti hubungan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Keempat, jika harapan dan kebutuhan kita tidak terpenuhi dalam suatu hubungan, maka kita perlu berpikir kembali apakah perlu menjalani hubungan tersebut. Kita tentu berharap pasangan bisa diajak untuk kompromi dalam menjalani suatu hubungan. Sayangnya jika pasangan tidak dapat diajak kompromi, kita akan semakin jauh dari diri kita yang sesungguhnya.

 

 

Advertisements
Posted in anak, bullying, keluarga, kesehatan mental, psikologi, remaja

Stop Bullying

Akhir-akhir ini, perilaku bullying atau ”perundungan” kembali menjadi perbicangan hangat di dunia maya, khususnya di media sosial. Ada dua kejadian yang memicu perbincangan hangat tersebut, yaitu di sebuah universitas swasta di Depok dan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Peristiwa bullying itu tentunya membuat geram pengguna internet, terutama yang telah merasakan menjadi orang tua. Mereka tampak menyayangkan, mengecam, bahkan ingin membalas pelaku bullying tersebut karena membayangkan bagaimana jika anak mereka mendapatkan perilaku yang serupa.

Menurut penulis buku tentang Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah, Riana Cahyani, perilaku bullying bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Hampir semua orang pernah melihat atau bahkan mengalami bully, entah sebagai korban atau pelaku. Bahkan KPAI pada tahun 2015 meyebutkan bahwa hampir semua pelajar di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Walaupun terjadi konflik dan terkadang muncul perilaku kekerasan, perilaku bullying berbeda dengan konflik biasa yang dialami oleh dua pihak. Pada kasus bullying, ada satu pihak yang merasa senang, sedangkan pihak yang lain merasa sedih, marah atau sakit hati. Hal lain yang membedakan adalah peristiwa mengalami pengulangan dalam kurun waktu tertentu dengan korban dan pelaku yang sama. Posisi dan kekuatan kedua pihak pun tidak setara. Salah satu pihak hampir tidak mungkin menghentikan atau membalas pihak yang lain. Korban terlalu takut dan cemas untuk melawan balik.

Korban bullying bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menjadi korban. Menyebar gosip, menirukan, mengejek, membuat lelucon hinaan, menghasut orang lain dengan tujuan mengucilkan, dan cyberbullying merupakan contoh perilaku bullying yang terjadi pada orang dewasa. Banyak peneitian yang telah dilakukan tentang dampak bullying. Korban dapat mengalami tidak nyaman, cemas, selalu merasa takut, dan merasa tidak berdaya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, bisa membuat korban menjadi seorang pembunuh atau malah bunuh diri (Anesty, 2009).

Sebagai pihak yang memahami tentang dampak bullying, kita perlu berhati-hati terhadap perilaku kita. Jangan sampai kita sendiri yang menjadi pelaku bullying karena pernah memukul, merusak barang, mengejek dan berkata kasar kepada orang lain. Jika kita melihat orang lain di-bully, kita perlu menghentikan dan memberikan peringatan kepada pelaku dengan cara yang asertif. Kita pun perlu menemani korban agar tidak merasa sendirian atau tidak berdaya saat menghadapi pelaku. Hal ini karena pelaku seringkali mencari orang yang lemah dan tidak bisa membela dirinya.

Sebenarnya pelaku bullying perlu mendapatkan pendampingan secara psikologis untuk menghentikan perilakunya karena perilaku mereka seringkali dipicu oleh masalah pribadi. Beberapa faktor penyebab adalah hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga, salah asuh atau pernah menjadi korban/saksi mata (Cahyani, 2017). Ketika hubungan dengan keluarga kurang harmonis, hal ini dapat menimbulkan frustrasi pada diri seseorang yang akhirnya ditimpakan pada orang lain yang terlihat lemah dan mudah digertak. Salah asuh juga menjadi faktor penyebab karena orang tua tidak mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain atau tidak memberi batasan mana yang boleh/tidak boleh sehingga memperlakukan orang lain sesuka hati. Seseorang yang pernah berada dalam posisi sebagai korban/saksi mata pun dapat berpotensi menjadi pelaku bullying. Misalnya, seseorang meniru dari perilaku orang tua atau lingkungan rumah yang melakukan kekerasan secara terus menerus. Arahkan pelaku bullying ini untuk menyelesaikan masalah pribadinya serta dampingi mereka agar mereka dapat belajar perilaku yang lebih positif terhadap orang lain.

 Dimuat di koran Kaltim Post 

Posted in balikpapan, keluarga, komunikasi, pasangan, pernikahan, psikologi

Menjalin Komunikasi Romantis dengan Pasangan

​Ketika memasuki gerbang pernikahan, sebagian pasangan mengharapkan hubungan yang romantis, harmonis, awet dan langgeng. Namun suatu hubungan tak selamanya berjalan mulus sesuai dengan komitmen semula. Ada kalanya hubungan tak semanis dan seindah yang diharapkan. Seiring dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, muncul permasalahan dan hubungan pasangan pun menjadi renggang. Terlebih lagi, saat anggota keluarga bertambah sehingga menyita perhatian, waktu, dan energi pasangan. 

Tanpa adanya kontak dan komunikasi diantara pasangan, hidup berumah tangga mudah mengalami keretakan. Mitos populer yang beredar tentang komunikasi, yaitu ketika sudah berbicara dengan pasangan berarti kita sudah berkomunikasi. Misalnya, “Sudah makan? Bagaimana kegiatanmu hari ini?”. Padahal pembicaraan tersebut masih dangkal dan membahas hal-hal yang tampak saja. Komunikasi yang diharapkan dari pasangan suami istri adalah pembicaraan yang lebih mendalam dan dapat menyampaikan pesan dengan leluasa. Pasangan suami istri sebaiknya mengetahui hal yang tidak disukai atau yang tidak disukai. Kebiasaan, sifat, harapan dan keinginan pasangan juga perlu dibicarakan satu sama lain. Hindari untuk menebak-nebak keinginan pasangan dan berharap pasangan mengerti tanpa perlu diberitahu.   

Permasalahan lain yang sering dikeluhkan para istri dalam komunikasi dengan pasangan adalah suami yang sudah berkurang kadar romantisnya atau bahkan tidak romantis sejak awal menikah. Jadi, bagaimana cara untuk berkomunikasi romantis dengan suami? Sebelum kita menuntut suami untuk berkomunikasi romantis, hal yang perlu dilakukan adalah menunjukkan komunikasi romantis tersebut kepada suami terlebih dahulu. Jangan segan atau gengsi untuk mengulang ucapan dan perilaku yang diinginkan kepada suami setiap hari, perlahan-lahan suami akan berusaha melakukan hal yang sama. Kalaupun romantisme sudah ditunjukkan oleh suami namun belum sesuai dengan keinginan istri, maka coba komunikasikan tanpa perlu memaksa atau menuntut secara terus menerus. Misalnya, sekedar ingin makan bersama, mendengar sapaan, atau meminta hadiah. Perubahan tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat. 

Terkadang suami berperilaku kurang romantis karena memang tidak memiliki contoh romantis dari lingkungan ia dibesarkan. Mungkin saja ia dibesarkan di lingkungan yang keras untuk bertahan hidup sehingga wajar jika tidak paham cara untuk berperilaku romantis. Hindari membanding-bandingkan dengan tipe suami yang lain karena dapat memicu permasalahan baru. Para suami terkadang perlu diyakinkan bahwa romantisme perlu tetap ditunjukkan pada istri meski usia pernikahan terus bertambah. 

Sesekali menghabiskan waktu berdua, tanpa anak dan gawai, diperlukan untuk menumbuhkan romantisme antar pasangan. Luangkan waktu untuk berkomunikasi. Tingkatkan kemampuan komunikasi pasangan dengan lebih banyak mendengar dalam keadaan emosi yang sedang tenang. Selain itu, perhatikan bahasa tubuh (non verbal) dari pasangan, seperti nada suara, kontak mata, jarak berbicara dan sebagainya. Bahasa tubuh ini memberikan kita lebih banyak informasi dibandingkan hal yang sedang dibicarakan. Selain itu, adanya perhatian kepada pasangan dengan cara memberikan pesan singkat, hadiah atau kejutan dapat mengembangkan komunikasi romantis. Jangan lupa berikan pujian pada pasangan karena mau berjuang dalam satu rumah tangga hingga saat ini.  

http://kaltim.prokal.co/read/news/298694-komunikasi-romantis.html

Posted in balikpapan, depresi, kecemasan, keluarga, kesehatan mental, manajemen emosi, psikologi

​Waspada terhadap Baby blues dan Postpartum Depression  

Kaltim Post, 6 Februari 2017

Kelahiran anak merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan, namun sebagian besar ibu belum memahami dan menyadari tentang baby blues setelah kelahiran. Sebagian besar ibu, yaitu 50 hingga 80 persen, akan mengalami naik turunnya emosi yang dikenal sebagai baby blues. Mengapa  baby blues dapat terjadi? Hal ini karena jumlah hormon yang membantu selama kehamilan, seperti hormon progesteron dan estrogen, turun drastis setelah kelahiran. Turunnya jumlah hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan mood, mudah mengeluh, kelelahan, kebingungan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan kurang tidur dan perubahan hidup menjadi orang tua, membuat masa awal memiliki bayi menjadi sangat melelahkan.    

 
Beda baby blues dan postpartum depression 

Baby blues dapat dikatakan normal, jika seorang ibu merasa tidak nyaman namun dalam kadar yang sedikit dan sementara. Baby blues akan hilang dalam dua minggu setelah kelahiran. Walaupun begitu, jika dua minggu gejala-gejala ringan tersebut masih belum hilang, maka akan disebut sebagai Postpartum Depression (PPD). PPD merupakan hal yang serius dan diharapkan menemui ahli yang memahami tentang postpartum depression. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin cepat ibu pulih dari PPD. Jika ibu dan lingkungan sekitar tidak menyadari tentang PPD, maka menjadi gangguan kronis. Sebanyak 25 persen ibu yang tidak mendapatkan penanganan, dapat mengalami depresi selama 1 tahun. 

 PPD juga dapat terjadi jika tanda cukup parah sehingga ibu tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal, meski tanda-tanda tersebut terjadi selama dua minggu pertama setelah kelahiran. Tanda-tanda yang ditemukan adalah kehilangan selera makan, sulit tidur, merasa tidak berguna, tidak dapat berkonsentrasi, cemas, marah, sangat sedih, kurang percaya diri, lelah dan kurang energi.  

PPD dapat dialami oleh 15 persen ibu (1 dari 7) di seluruh dunia. Penyebab PPD bukan hanya karena turunnya jumlah hormon yang akhirnya mempengaruhi neurotransmitter di otak, namun juga karena faktor psikososial seperti pindah rumah, sakit, kurang dukungan pasangan, masalah keuangan dan isolasi dari lingkungan sekitar. Hal ini mempengaruhi keadaan emosi seorang ibu. Kurangnya tidur, nutrisi yang cukup dan sehat juga dapat menyebabkan PPD.  

Pencegahan 

Untuk mencegah baby blues dan post partum depression, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: 

a. Lakukan persiapan fisik dan mental yang matang sebelum melahirkan. Selesaikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, misalnya dengan pasangan atau orang tua. Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang bisa dilakukan setelah melahirkan dan berusaha konsisten dengan kesepakatan tersebut. 

b. Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan bayi sebelum melahirkan. Pengetahuan tersebut bisa didapat melalui buku, majalah, dan website. Ayah dan ibu perlu menentukan metode yang akan digunakan saat melahirkan dan perawatan bayi yang diinginkan, terlepas dari pendapat orang tua, tetangga, dan teman. Usahakan ayah dan ibu paham betul cara merawat bayi.  

c. Dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat penting. Banyak berkomunikasi pada pasangan. Ayah juga diharapkan memahami kondisi ibu setelah melahirkan. Jika ada pihak lain yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus rumah tangga maka akan meringankan beban ibu. Tidak perlu malu dan ragu untuk meminta bantuan orang lain jika merasa kewalahan.  

d. Ibu memerlukan kondisi fisik dan mental yang sehat untuk mengasuh bayi. Beristirahatlah dengan memanfaatkan jam tidur bayi atau ketika ada bantuan orang lain. Dengan beristirahat akan mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Jangan lupa menjaga pola makan dan nutrisi agar ibu tidak mudah letih serta sakit. 

e. Sadari bahwa ibu tidak sendiri, carilah teman-teman yang nyaman untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teman-teman yang saling mendukung dan dapat berbagi energi positif untuk ibu. 

f. Selalu berdoa untuk kesehatan diri dan keluarga, agar terhindar dari baby blues, postpartum depression, serta gangguan mental lainnya. 

Posted in keluarga, kesehatan mental, pernikahan, psikologi, Uncategorized

Bimbingan Pra Nikah

BIMBINGAN PRA NIKAH (tersedia di klinik Fajar Farma)


Persiapan Menuju Pernikahan Sakinah

Pemateri : Sarwendah Indrarani, M. Psi, Psikolog

Materi :
1. Tujuan dan Harapan Pernikahan
2. Mitos dan Fakta dalam Pernikahan
3. Sumber Konflik dengan Pasangan

Investasi :
Rp 300.000,- per pasangan. 1 pertemuan, 3 jam.

Registrasi dan informasi :

Klinik Fajar Farma

Jl. Indrakila Ruko No. 17J RT. 32 Kampung Timur, Balikpapan Utara
No. Telp: (0542) 8860836 atau 0821 5949 9446

Bimbingan Pranikah dengan membuat perjanjian sebelumnya

Kasus perceraian di Kota Balikpapan dari tahun ke tahun kian meningkat. Beberapa faktor penyebab perceraian adalah munculnya orang ketiga dan tidak adanya tanggung jawab suami. Penyebab lain adalah kurang dewasanya pihak pasangan dan adanya intervensi dari pihak lain. Tercatat pada tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2015, kasus perceraian semakin meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus talak 504 kasus, sedangkan kasus gugatan cerai mencapai 1.016 kasus. Tahun 2014, kasus talak berjumlah 467 dan gugatan cerai mencapai 1.093. Sedangkan pada Juni 2015, kasus talak mencapai 236 dan kasus gugatan cerai mencapai 611 (http://balikpapan.prokal.co/read/news/168076-kasus-cerai-didominasi-pasangan-muda).

Data-data tersebut menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang mungkin muncul dalam sebuah pernikahan dan pasangan yang kurang mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan. Bukan mempersiapkan tentang prosesi pernikahan atau acara pestanya, namun lebih ke pada pemahaman akan makna pernikahan dan keterampilan menghadapi pasangan. Sebagian mungkin masih terbuai dengan indahnya pernikahan yang digambarkan di film atau cerita dongeng. Pernikahan digambarkan hanya berisi kebahagiaan, mencintai dan dicintai pasangan untuk selama-lamanya. Pernikahan digambarkan begitu ideal, bahkan seperti kapal penyelamat kehidupan yang selama ini mungkin tampak menyedihkan atau hambar. 

Banyak pasangan yang belum siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang bisa menguatkan hubungan mereka. Bahkan terkadang mereka belum mengenal diri sendiri dan mengenal kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa pasangan perlu untuk mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan yang ada dan membuat kesepakatan. Mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah lebih baik daripada mengalami konflik setelah menikah. Hal ini karena satu konflik saja yang terjadi setelah menikah bisa berujung perceraian. 

Menikah bukanlah hal yang mudah. Menjadi suami atau istri yang baik juga bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan pranikah sebagai bekal ilmu bagi pasangan tersebut. Bimbingan pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah. Konseling pranikah diberikan oleh psikolog atau konselor pernikahan. Konselor bukanlah orang yang akan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Ia hanya orang ketiga yang menjadi perantara dan menyodorkan cara pandang lain dalam melihat hubungan mereka. 

Tujuan Bimbingan Pranikah :

  • Meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan.
  • Membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian.
  • Bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki  pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.