Posted in balikpapan, kehamilan, keluarga, kesehatan mental

Waspada Gejala Depresi pada Ibu Hamil

Seshutterstock_261991445lama proses kehamilan, seorang perempuan akan menjalani berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik, calon ibu dapat mengalami nyeri di bagian perut, perubahan pada bagian dada, sesak nafas, kaki bengkak, sembelit, sakit kepala, dan sebagainya. Sedangkan secara psikologis, mereka akan merasakan perubahan mood dan emosi. Misalnya, sering menangis, lekas marah, sedih atau cepat berubah menjadi senang. Perilakunya pun dapat berubah tergantung situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Meski begitu, calon ibu seringkali tidak memahami dan tidak menyiapkan diri terhadap perubahan tersebut. Selain itu, mungkin tidak ada pihak yang menyampaikan mengenai perubahan tersebut kepada calon ibu.

Sebagian dari masyarakat memiliki anggapan bahwa kehamilan dan memiliki bayi adalah periode yang paling menyenangkan bagi seorang perempuan. Oleh karena itu, berbagai perubahan yang terjadi selama kehamilan itu hal biasa, hanya perlu dijalani dan tidak perlu dianggap terlalu berlebihan. Faktanya, terdapat ibu hamil yang memang mengalami perubahan drastis dan tiba-tiba pada aspek psikologisnya. Salah satunya, ibu hamil dapat mengalami gejala depresi, yaitu merasa sedih, tertekan dan kehilangan minat pada setiap kegiatan selama dua minggu atau lebih.

Berdasarkan data dari The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan The American Psychiatric Association (APA) , 14 hingga 23 persen dari ibu hamil di Amerika mengalami gejala depresi selama kehamilan. Sedangkan menurut WHO (2008), ibu hamil yang mengalami gejala depresi bervariasi dari 10 hingga 41%. Di Indonesia masih sulit untuk menemukan data ibu hamil yang mengalami gejala depresi. Salah satu penyebabnya adalah ibu hamil tidak melaporkan gejala tersebut atau menutupi persoalan yang dialaminya. Padahal dengan menyampaikan gejala atau persoalan yang dialaminya pada tenaga kesehatan terdekat, ibu hamil tersebut bisa mendapatkan jawaban dan pertolongan yang dibutuhkan.

Ibu hamil yang tidak mendapatkan penanganan terhadap gejala depresinya dapat berkembang menjadi gangguan depresi setelah melahirkan atau dikenal sebagai depresi postpartum. Adapun tanda-tandanya adalah kesulitan untuk terhubung dengan bayi, menarik diri dari lingkungan, gangguan makan dan tidur, menangis atau marah berlebihan, merasa bukan ibu yang baik dan kelelahan yang berlangsung secara terus menerus. Dalam jangka panjang, ada keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, bahkan mencoba bunuh diri. Sedangkan dampak dari gejala depresi yang tidak tertangani selama kehamilan adalah dapat melahirkan anak dengan ukuran tubuh dan pertumbuhan kepala yang lebih kecil. Menurut penelitian yang dilaporkan oleh jurnal Psikiatri di Belanda pada tahun 2012, pertumbuhan kepala yang lebih kecil berarti anak dapat mengalami masalah perilaku, gangguan kecemasan, ADD/ADHD atau kesulitan saat menyesaikan tugas yang memerlukan kemampuan kognitif.

Penanganan segera pada gejala depresi sangat diperlukan. Oleh karena itu, keluarga, teman atau tetangga terdekat dari calon ibu perlu lebih perhatian jika ada gejala depresi yang muncul. Bukan sebaliknya, lingkungan sosial menghakimi atau menilai negatif terhadap calon ibu. Beberapa hal yang dapat dilakukan lingkungan terdekat untuk calon ibu adalah mengajak berbicara, memberikan waktu untuk istirahat, memperhatikan asupan gizi dari makanan, dan mengajak berolah raga ringan di luar rumah.

Advertisements
Posted in balikpapan, depresi, insomnia, kecemasan, kesehatan mental, psikologi, relaksasi, sulit tidur

Membangun Kekuatan Mental

mental-health-stickers

Telah banyak diketahui bahwa terdapat hubungan erat antara pikiran dan tubuh, yang berarti pula terdapat hubungan antara kesehatan fisik dan mental. Jika kita merasa kurang nyaman dan kita tidak tahu sebabnya, terkadang hal yang perlu kita lakukan adalah melakukan perubahan secara fisik, bukan hanya mengubah pikiran. Memberi saran untuk “berpikir positif” terkadang kurang mengena untuk sebagian orang.  Tips berikut dapat dilakukan untuk membangun kekuatan mental melalui fisik kita:

  1. Berjalan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi cara yang efektif untuk membantu menyelesaikan masalah mental. Dengan berjalan 30 menit setiap hari dapat mengurangi depresi dan meningkatkan kualitas hidup. Manfaat berjalan bukan hanya untuk orang yang depresi, namun juga orang yang sehat.
  2. Tersenyum. Penelitian juga menemukan bahwa senyuman dapat membantu meningkatkan rasa nyaman. Sebaliknya, merengutkan dahi dapat meningkatkan rasa tidak nyaman/sakit. Denyut jantung dapat berdetak lebih pelan jika kita tersenyum saat menghadapi peristiwa yang penuh stres, walaupun kita sedang tidak merasa senang. Kita dapat berpikir tentang tempat yang membuat kita senang atau hal lucu ketika sedang menjalani prosedur yang menyakitkan. Hal tersebut dapat mengurangi rasa sakit.
  3.  Tarik napas panjang untuk meningkatkan konsentrasi. Tarik nafas dilakukan beberapa menit dan sambil menghitung tarikan nafas akan membantu ketika menghadapi banyak tugas.
  4. Berlatih beban. Hal tersebut dapat mengurangi kecemasan, takut, dan khawatir. Tanpa adanya intervensi, kecemasan dapat membuat kurang tidur, rasa sakit, kurang sehat dan terbatas secara fisik. Tidak perlu berlatih angkat beban yang berat, lakukan yang ringan atau sedang untuk mendapatkan hasil yang efektif.

Membangun kesehatan mental tidak selalu dengan mengubah pikiran. Terkadang, dengan beberapa perubahan fisik secara rutin dapat membantu dalam melatih otak dan menyembuhkan pikiran.

Diterjemahkan dari : https://www.psychologytoday.com/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201611/5-active-ways-build-mental-strength

 

 

 

Posted in balikpapan, keluarga, kesehatan mental, pasangan

Apakah Perlu Melanjutkan Hubungan?

breakup-770x470

Beberapa klien telah datang menemui saya dengan pertanyaan yang sama, ”Apakah saya perlu melanjutkan hubungan dengan dia?”. Hubungan tersebut bukan hanya dalam hubungan pacaran, namun juga dalam hubungan pernikahan. Dalam hubungan pacaran, berarti “putus”. Sedangkan dalam hubungan pernikahan, berarti “cerai”. Kedua-duanya tidak menyenangkan dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Namun, ada kalanya kita perlu tegas berkata “enough is enough” atau “cukup sudah” dalam menjalani suatu hubungan.

Menurut seorang psikoterapis, Kim menyatakan terdapat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa hubungan tidak perlu dilanjutkan. Tanda pertama adalah tidak menjadi diri sendiri. Hal yang biasanya kita sukai dan membuat kita unik/berbeda dari orang lain perlahan-lahan menghilang. Terkadang pasangan kita berusaha mengontrol kita dan mengatakan perilakunya sebagai tanda cinta. Namun, kita tidak benar-benar menjadi diri sendiri, kita berubah menjadi orang yang diinginkan pasangan. Kita mengikuti keinginan pasangan sebagai pengorbanan untuk cinta. Meski begitu, hal tersebut menjadikan kita merasa berat untuk menjalani seuatu hubungan.

Tanda kedua adalah perlu membuktikan diri kita berharga secara terus-menerus di depannya. Dalam suatu hubungan, kita perlu merasa nyaman, aman, dihargai, dihormati, dan disayangi. Jika kita merasa sebaliknya, berarti kita tidak berharga di depannya. Hal lain yang membuat kita merasa tidak berharga adalah pendapat kita tidak didengarkan, pasangan tidak mendukung mimpi kita, jarang berbicara tentang diri kita, pasangan tidak memahami, tidak mempedulikan dan sebagainya. Dalam suatu hubungan, pasangan perlu saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Tanda ketiga adalah menjalani rutinitas dari suatu hubungan, namun tidak memiliki semangat ketika menjalani hubungan.  Contohnya, kita tahu kapan perlu membeli hadiah untuk tanggal penting, tahu kapan makan malam bersama, tahu hal kesukaannya, namun diri sendiri merasa hampa. Jika semua berjalan rutin dan hanya untuk membahagiakan pasangan, berarti hubungan tersebut perlu dievaluasi kembali.

Keempat, jika harapan dan kebutuhan kita tidak terpenuhi dalam suatu hubungan, maka kita perlu berpikir kembali apakah perlu menjalani hubungan tersebut. Kita tentu berharap pasangan bisa diajak untuk kompromi dalam menjalani suatu hubungan. Sayangnya jika pasangan tidak dapat diajak kompromi, kita akan semakin jauh dari diri kita yang sesungguhnya.

 

 

Posted in anak, bullying, keluarga, kesehatan mental, psikologi, remaja

Stop Bullying

Akhir-akhir ini, perilaku bullying atau ”perundungan” kembali menjadi perbicangan hangat di dunia maya, khususnya di media sosial. Ada dua kejadian yang memicu perbincangan hangat tersebut, yaitu di sebuah universitas swasta di Depok dan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Peristiwa bullying itu tentunya membuat geram pengguna internet, terutama yang telah merasakan menjadi orang tua. Mereka tampak menyayangkan, mengecam, bahkan ingin membalas pelaku bullying tersebut karena membayangkan bagaimana jika anak mereka mendapatkan perilaku yang serupa.

Menurut penulis buku tentang Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah, Riana Cahyani, perilaku bullying bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Hampir semua orang pernah melihat atau bahkan mengalami bully, entah sebagai korban atau pelaku. Bahkan KPAI pada tahun 2015 meyebutkan bahwa hampir semua pelajar di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Walaupun terjadi konflik dan terkadang muncul perilaku kekerasan, perilaku bullying berbeda dengan konflik biasa yang dialami oleh dua pihak. Pada kasus bullying, ada satu pihak yang merasa senang, sedangkan pihak yang lain merasa sedih, marah atau sakit hati. Hal lain yang membedakan adalah peristiwa mengalami pengulangan dalam kurun waktu tertentu dengan korban dan pelaku yang sama. Posisi dan kekuatan kedua pihak pun tidak setara. Salah satu pihak hampir tidak mungkin menghentikan atau membalas pihak yang lain. Korban terlalu takut dan cemas untuk melawan balik.

Korban bullying bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menjadi korban. Menyebar gosip, menirukan, mengejek, membuat lelucon hinaan, menghasut orang lain dengan tujuan mengucilkan, dan cyberbullying merupakan contoh perilaku bullying yang terjadi pada orang dewasa. Banyak peneitian yang telah dilakukan tentang dampak bullying. Korban dapat mengalami tidak nyaman, cemas, selalu merasa takut, dan merasa tidak berdaya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, bisa membuat korban menjadi seorang pembunuh atau malah bunuh diri (Anesty, 2009).

Sebagai pihak yang memahami tentang dampak bullying, kita perlu berhati-hati terhadap perilaku kita. Jangan sampai kita sendiri yang menjadi pelaku bullying karena pernah memukul, merusak barang, mengejek dan berkata kasar kepada orang lain. Jika kita melihat orang lain di-bully, kita perlu menghentikan dan memberikan peringatan kepada pelaku dengan cara yang asertif. Kita pun perlu menemani korban agar tidak merasa sendirian atau tidak berdaya saat menghadapi pelaku. Hal ini karena pelaku seringkali mencari orang yang lemah dan tidak bisa membela dirinya.

Sebenarnya pelaku bullying perlu mendapatkan pendampingan secara psikologis untuk menghentikan perilakunya karena perilaku mereka seringkali dipicu oleh masalah pribadi. Beberapa faktor penyebab adalah hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga, salah asuh atau pernah menjadi korban/saksi mata (Cahyani, 2017). Ketika hubungan dengan keluarga kurang harmonis, hal ini dapat menimbulkan frustrasi pada diri seseorang yang akhirnya ditimpakan pada orang lain yang terlihat lemah dan mudah digertak. Salah asuh juga menjadi faktor penyebab karena orang tua tidak mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain atau tidak memberi batasan mana yang boleh/tidak boleh sehingga memperlakukan orang lain sesuka hati. Seseorang yang pernah berada dalam posisi sebagai korban/saksi mata pun dapat berpotensi menjadi pelaku bullying. Misalnya, seseorang meniru dari perilaku orang tua atau lingkungan rumah yang melakukan kekerasan secara terus menerus. Arahkan pelaku bullying ini untuk menyelesaikan masalah pribadinya serta dampingi mereka agar mereka dapat belajar perilaku yang lebih positif terhadap orang lain.

 Dimuat di koran Kaltim Post 

Posted in balikpapan, depresi, kecemasan, keluarga, kesehatan mental, manajemen emosi, psikologi

​Waspada terhadap Baby blues dan Postpartum Depression  

Kaltim Post, 6 Februari 2017

Kelahiran anak merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan, namun sebagian besar ibu belum memahami dan menyadari tentang baby blues setelah kelahiran. Sebagian besar ibu, yaitu 50 hingga 80 persen, akan mengalami naik turunnya emosi yang dikenal sebagai baby blues. Mengapa  baby blues dapat terjadi? Hal ini karena jumlah hormon yang membantu selama kehamilan, seperti hormon progesteron dan estrogen, turun drastis setelah kelahiran. Turunnya jumlah hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan mood, mudah mengeluh, kelelahan, kebingungan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan kurang tidur dan perubahan hidup menjadi orang tua, membuat masa awal memiliki bayi menjadi sangat melelahkan.    

 
Beda baby blues dan postpartum depression 

Baby blues dapat dikatakan normal, jika seorang ibu merasa tidak nyaman namun dalam kadar yang sedikit dan sementara. Baby blues akan hilang dalam dua minggu setelah kelahiran. Walaupun begitu, jika dua minggu gejala-gejala ringan tersebut masih belum hilang, maka akan disebut sebagai Postpartum Depression (PPD). PPD merupakan hal yang serius dan diharapkan menemui ahli yang memahami tentang postpartum depression. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin cepat ibu pulih dari PPD. Jika ibu dan lingkungan sekitar tidak menyadari tentang PPD, maka menjadi gangguan kronis. Sebanyak 25 persen ibu yang tidak mendapatkan penanganan, dapat mengalami depresi selama 1 tahun. 

 PPD juga dapat terjadi jika tanda cukup parah sehingga ibu tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal, meski tanda-tanda tersebut terjadi selama dua minggu pertama setelah kelahiran. Tanda-tanda yang ditemukan adalah kehilangan selera makan, sulit tidur, merasa tidak berguna, tidak dapat berkonsentrasi, cemas, marah, sangat sedih, kurang percaya diri, lelah dan kurang energi.  

PPD dapat dialami oleh 15 persen ibu (1 dari 7) di seluruh dunia. Penyebab PPD bukan hanya karena turunnya jumlah hormon yang akhirnya mempengaruhi neurotransmitter di otak, namun juga karena faktor psikososial seperti pindah rumah, sakit, kurang dukungan pasangan, masalah keuangan dan isolasi dari lingkungan sekitar. Hal ini mempengaruhi keadaan emosi seorang ibu. Kurangnya tidur, nutrisi yang cukup dan sehat juga dapat menyebabkan PPD.  

Pencegahan 

Untuk mencegah baby blues dan post partum depression, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: 

a. Lakukan persiapan fisik dan mental yang matang sebelum melahirkan. Selesaikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, misalnya dengan pasangan atau orang tua. Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang bisa dilakukan setelah melahirkan dan berusaha konsisten dengan kesepakatan tersebut. 

b. Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan bayi sebelum melahirkan. Pengetahuan tersebut bisa didapat melalui buku, majalah, dan website. Ayah dan ibu perlu menentukan metode yang akan digunakan saat melahirkan dan perawatan bayi yang diinginkan, terlepas dari pendapat orang tua, tetangga, dan teman. Usahakan ayah dan ibu paham betul cara merawat bayi.  

c. Dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat penting. Banyak berkomunikasi pada pasangan. Ayah juga diharapkan memahami kondisi ibu setelah melahirkan. Jika ada pihak lain yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus rumah tangga maka akan meringankan beban ibu. Tidak perlu malu dan ragu untuk meminta bantuan orang lain jika merasa kewalahan.  

d. Ibu memerlukan kondisi fisik dan mental yang sehat untuk mengasuh bayi. Beristirahatlah dengan memanfaatkan jam tidur bayi atau ketika ada bantuan orang lain. Dengan beristirahat akan mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Jangan lupa menjaga pola makan dan nutrisi agar ibu tidak mudah letih serta sakit. 

e. Sadari bahwa ibu tidak sendiri, carilah teman-teman yang nyaman untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teman-teman yang saling mendukung dan dapat berbagi energi positif untuk ibu. 

f. Selalu berdoa untuk kesehatan diri dan keluarga, agar terhindar dari baby blues, postpartum depression, serta gangguan mental lainnya. 

Posted in keluarga, kesehatan mental, pernikahan, psikologi, Uncategorized

Edukasi dan Konseling Pra Nikah

Konseling

EDUKASI DAN KONSELING PRA NIKAH (tersedia di klinik Fajar Farma)

Pemateri : Sarwendah Indrarani, M. Psi, Psikolog

Materi :
1. Tujuan dan Harapan Pernikahan
2. Mitos dan Fakta dalam Pernikahan
3. Sumber Konflik dengan Pasangan

Investasi :
Rp 250.000,- per pasangan. 1 pertemuan, 2-3 jam.

Registrasi dan informasi :

Klinik Fajar Farma

Jl. Indrakila Ruko No. 17J RT. 32 Kampung Timur, Balikpapan Utara 

Edukasi dan Konseling Pranikah dengan membuat perjanjian sebelumnya. Pendaftaran : 0857 1077 4964

Kasus perceraian di Kota Balikpapan dari tahun ke tahun kian meningkat. Beberapa faktor penyebab perceraian adalah munculnya orang ketiga dan tidak adanya tanggung jawab suami. Penyebab lain adalah kurang dewasanya pihak pasangan dan adanya intervensi dari pihak lain. Tercatat pada tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2015, kasus perceraian semakin meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus talak 504 kasus, sedangkan kasus gugatan cerai mencapai 1.016 kasus. Tahun 2014, kasus talak berjumlah 467 dan gugatan cerai mencapai 1.093. Sedangkan pada Juni 2015, kasus talak mencapai 236 dan kasus gugatan cerai mencapai 611 (http://balikpapan.prokal.co/read/news/168076-kasus-cerai-didominasi-pasangan-muda).

Data-data tersebut menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang mungkin muncul dalam sebuah pernikahan dan pasangan yang kurang mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan. Bukan mempersiapkan tentang prosesi pernikahan atau acara pestanya, namun lebih ke pada pemahaman akan makna pernikahan dan keterampilan menghadapi pasangan. Sebagian mungkin masih terbuai dengan indahnya pernikahan yang digambarkan di film atau cerita dongeng. Pernikahan digambarkan hanya berisi kebahagiaan, mencintai dan dicintai pasangan untuk selama-lamanya. Pernikahan digambarkan begitu ideal, bahkan seperti kapal penyelamat kehidupan yang selama ini mungkin tampak menyedihkan atau hambar.

Banyak pasangan yang belum siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang bisa menguatkan hubungan mereka. Bahkan terkadang mereka belum mengenal diri sendiri dan mengenal kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa pasangan perlu untuk mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan yang ada dan membuat kesepakatan. Mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah lebih baik daripada mengalami konflik setelah menikah. Hal ini karena satu konflik saja yang terjadi setelah menikah bisa berujung perceraian.

Menikah bukanlah hal yang mudah. Menjadi suami atau istri yang baik juga bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan pranikah sebagai bekal ilmu bagi pasangan tersebut. Bimbingan pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah. Konseling pranikah diberikan oleh psikolog atau konselor pernikahan. Konselor bukanlah orang yang akan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Ia hanya orang ketiga yang menjadi perantara dan menyodorkan cara pandang lain dalam melihat hubungan mereka.

Tujuan Bimbingan Pranikah :

  • Meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan.
  • Membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian.
  • Bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki  pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.

Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

Manajemen Emosi Bagi Ibu

koran-1

Kaltim Post, Desember 2016

“Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
berada dalam posisi tersebut?

Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
membalas dendam.

Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
sedikit demi sedikit.

Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
a village to raise a child.

Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
mengurangi perasaan tidak nyaman.

Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.

Posted in balikpapan, depresi, kesehatan mental, relaksasi

Mengenal tentang Depresi

unnamed

Depresi merupakan gangguan kesehatan yang cukup serius. Sayangnya masyarakat di Indonesia masih belum banyak mengenal dan memahaminya. Dengan meningkatkan kesadaran terhadap depresi, maka kita dapat menyelamatkan banyak jiwa.

Menurut WHO, depresi adalah masalah yang dapat dialami oleh siapapun di dunia, sekitar 350 juta orang pernah mengalaminya. Depresi adalah gangguan mood berupa perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus menerus. Dalam jangka waktu yang lama, depresi dapat mempengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku orang yang mengalaminya hingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Bahkan dalam kasus yang terburuk, dapat menimbulkan perasaan tidak berharga dan mengakibatkan bunuh diri.

Gejala Depresi

Depresi memiliki gejala khas yang tampak dalam gejala psikis, fisik dan sosial. Gejala psikis biasanya berupa kesedihan luar biasa, kehilangan semangat hidup, merasa bersalah dan gagal, kurang percaya diri secara terus-menerus, dan mudah tersinggung. Sedangkan gejala fisik berupa malas beraktivitas, gangguan tidur, nafsu makan terganggu, merasa letih berkepanjangan dan kesulitan berkonsentrasi. Adapun gejala sosial yang tampak merupakan akibat dari gejala psikis dan fisik. Orang yang mudah tersinggung, letih dan mudah sakit akhirnya akan berdampak ketika bereaksi pada lingkungan. Ia akan mudah mengalami konflik dengan orang lain.

Penyebab Depresi

Kondisi depresi dapat timbul ketika seseorang mengalami stress yang tidak kunjung reda. Depresi juga dapat terjadi karena baru mengalami peristiwa dramatis dalam hidup, seperti kehilangan orang yang disayangi dan kehilangan pekerjaan. Selain itu, konflik dengan orang lain atau keluarga secara terus-menerus juga dapat menimbulkan depresi.

Berdasarkan faktor biologis, ada beberapa hal yang dapat berperan terhadap timbulnya depresi yaitu sakit berkepanjangan, efek samping obat, dan perubahan hormonal. Terkait perubahan hormon, wanita yang mengalami monopause, hamil dan melahirkan perlu berhati-hati karena dapat mengalami depresi. Selain itu, depresi dapat terjadi karena penyakit fisik turunan.

Pencegahan dan penanggulangan

Untuk pencegahan depresi, kita perlu belajar untuk mengelola stress sehari-hari. Kita juga perlu mempererat ikatan dengan keluarga dan teman terutama ketika menghadapi krisis. Selain itu, kenali gejala-gejala awal depresi untuk mendapatkan penanganan segera. Untuk menanggulangi, penderita perlu merubah pola hidup, yaitu menjalani hidup dengan lebih teratur. Selain itu, memiliki kemauan untuk menjalani terapi psikologis yang berupa latihan relaksasi dan konseling dengan psikolog. Penderita pun perlu mendapatkan pengobatan secara rutin dari dokter.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post

Posted in kesehatan mental, manfaat pelukan

Pelukan dapat menyehatkan

2014-11-03 17.11.45

Para ahli jiwa merekomendasikan setidaknya delapan pelukan sehari untuk lebih bahagia dan menikmati hubungan yang lebih baik. Sedangkan terapis keluarga Virginia Satir menyatakan bahwa kita membutuhkan 4 pelukan untuk bertahan hidup, 8 pelukan untuk kesehatan dan 12 pelukan untuk pertumbuhan. Sebuah penelitian menyatakan bahwa tindakan sederhana seperti memeluk dapat meningkatkan jumlah hormon oksitosin dalam tubuh. Hormon oksitosin merupakan hormon yang dapat meningkatkan kepercayaan dan keyakinan diri, mengurangi rasa takut, serta meningkatkan kasih sayang dan ketenangan. Hormon oksitosin ini juga dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kekebalan tubuh, melawan infeksi dan kelelahan, serta mengurangi stres dan depresi. Sedangkan penelitian yang lain menyatakan bahwa pelukan pada anak dapat meningkatkan kecerdasan otak. Hasil penelitian ini menjadi alasan mengapa tindakan sederhana seperti memeluk tidak hanya memperkuat ikatan dengan orang lain, tetapi juga memperkuat fisik, emosi dan kesehatan.

Salah satu hal unik dari berpelukan adalah orang yang memeluk dan yang dipeluk sama-sama merasakan manfaat yang sama. Agar pelukan kita memiliki dampak lebih baik, diharapkan sebelum memeluk singkirkan hal-hal yang dapat mengganggu pikiran seperti urusan pekerjaan, urusan rumah dan lain-lain. Memberikan pelukan dengan kepala penuh berbagai pikiran dapat mengurangi energi positif dan kehangatan yang akan kita berikan. Bebaskan tangan kita dari benda-benda yang ada di tangan seperti telepon genggam, tas, kunci atau barang lainnya sehingga lebih leluasa untuk memeluk. Lakukan pelukan minimal tiga detik untuk merasakan dampaknya pada tubuh.

Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, berpelukan yang memberikan dampak positif dilakukan oleh pasangan suami istri, saudara, teman, dan orang tua pada anaknya. Pelukan dapat membawa dampak negatif jika dilakukan pada orang yang tidak suka melakukan kontak fisik, terkait dengan perbedaan pandangan pribadi dan budaya. Pelukan juga perlu diberikan pada saat yang tepat, pada orang yang tepat dan sesegera mungkin.

Sayangnya, banyak yang belum mengetahui manfaat dari pelukan atau menganggap pelukan sebagai hal yang kurang lazim. Hal ini membuat kita tidak terbiasa dan tidak nyaman untuk minta dipeluk atau memeluk keluarga sendiri. Akhirnya, kita atau anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang kekurangan sentuhan dan kasih sayang. Jangan sampai kita mempercayai pendapat bahwa anak yang sering dipeluk akan tumbuh menjadi anak yang cengeng dan manja. Sebaliknya, bayi atau anak yang sering disentuh atau dibelai orang tuanya akan tumbuh menjadi seseorang yang penyayang, tubuhnya menjadi lebih sehat, dan percaya diri.

Bisa jadi kurangnya pelukan diantara suami istri, saudara, dan orang tua pada anak menjadi salah satu faktor banyaknya masalah atau gangguan emosi yang muncul dalam masyarakat. Misalnya, tingginya angka kejahatan kriminalitas, narkoba dan kenakalan remaja. Kekerasan dalam rumah tangga juga dapat terjadi karena kekurangan pelukan, tidak ada sosok atau contoh yang dapat memberikan kasih sayang dan perhatian. Dan bisa jadi solusi untuk mengurangi permasalahan tersebut salah satunya dengan memberikan pelukan kasih sayang diantara pasangan suami istri, saudara, teman dan orang tua-anak. Jadi, tunggu apalagi segera berikan pelukan terbaik bagi keluarga kita.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post

Posted in kesehatan mental, marah, mengelola, psikologi

Mengelola Amarah

IMG_20363107836490

Setiap orang pasti pernah merasa marah. Berbagai peristiwa atau keberadaan pihak lain dapat menjadi sumber dari emosi marah ini. Munculnya emosi marah tidak selalu dapat dihindari, terlebih lagi saat menghadapi situasi yang tidak adil dan tidak menyenangkan. Akan tetapi, emosi marah perlu dikelola dan dikendalikan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri dan lingkungan. Kemarahan yang tidak terkontrol, meski hanya sebentar, dapat berdampak luar biasa.

Marah dan penyebabnya

Marah merupakan emosi normal dengan rentang intensitas yang luas, mulai dari iritasi ringan, frustasi hingga amukan. Marah merupakan reaksi dari penafsiran dan kemungkinan ancaman terhadap diri, orang yang kita cintai, properti, gambaran diri atau bagian lain dari diri kita. Kemarahan merupakan tanda bagi kita untuk menyatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang salah.

Terdapat tiga hal untuk menyatakan bahwa kita sedang marah: 1) Reaksi fisik yang dimulai dengan adanya aliran adrenalin dan respons, seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah dan tegangnya otot. 2) Reaksi kognitif dimana kita mempersepsikan atau memikirkan tentang hal yang membuat kita marah. Misalnya, kita berpikir bahwa hal yang sedang terjadi pada diri adalah hal yang salah, tidak adil, dan tidak patut. 3) Perilaku atau cara kita mengekspresikan kemarahan. Rentang perilaku ini cukup luas, mulai dari wajah tampak merah, suara tampak keras, membanting pintu, pergi begitu saja atau tanda lain untuk menunjukkan bahwa kita marah.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penyebab dari marah dapat disebabkan oleh peristiwa atau hal yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Walaupun begitu, kita juga dapat menjadi marah karena hal yang kita lakukan pada diri sendiri. Stres, ingatan terhadap hal yang menyakitkan atau menyedihkan, kurang tidur, sedang mengalami sakit, cemas dan sebagainya dapat membuat kita menjadi marah.

Dampak dari marah

Mengalami emosi marah dapat menjadi hal yang baik dan sehat jika dapat memotivasi kita untuk membela diri dan melakukan koreksi terhadap hal yang salah. Marah dapat pula memotivasi untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Sebaliknya, emosi marah yang tidak terkontrol banyak berdampak negatif.

Dampak negatif dari kemarahan akan terasa pada tiga aspek, yaitu kesehatan, psikologis dan hubungan dengan orang lain. Faktanya, ketika kita marah, jantung berdebar dengan lebih keras, denyut nadi bertambah cepat, dan tekanan darah meningkat sehingga terdapat resiko untuk mengganggu kesehatan fisik seseorang. Tubuh juga jadi rentan terhadap penyakit, cepat lelah, dan daya tahan tubuh menurun. Secara psikologis, orang yang marah terlalu berlebihan tidak mampu mengambil kesimpulan yang tepat dan benar. Marah juga membuat kita dalam situasi yang tidak menyenangkan atau tidak bahagia. Kita pun akan dikenal sebagai orang yang pemarah. Selain itu, kemarahan dapat menimbulkan masalah dengan orang lain dan menghambat kerja sama karena ada permusuhan atau perasaan terluka.

Mengelola marah

Agar kemarahan tidak berdampak negatif dan menghindari perbuatan agresif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Hal yang dapat dilakukan saat sedang marah: 1) Cobalah mengatur volume suara dan pernapasan. Bicaralah perlahan dengan volume suara yang sedang, bahkan berbisik jika diperlukan. Hindari membentak atau berteriak. Tarik nafas dalam dan hitung pelan-pelan sampai 10 atau 20 dengan tujuan memberikan waktu bagi diri untuk merefleksikan keadaan, apakah situasi layak atau tidak dalam mengekspresikan kemarahan. 2) Jangan langsung mengekspresikan kemarahan baik secara lisan maupun tulisan. Jika sudah tenang, barulah fokus pada permasalahan, kemukakan hal yang menjadi harapan dan keinginan kita. 3) Jika belum bisa tenang, tinggalkan saja dulu tempat atau orang yang membuat kita marah. Berdiam diri atau “time-out”, berdoa, minum air putih, atau sekedar jalan-jalan dapat membantu menetralkan perasaan. Kita juga dapat menetralkan perasaan dengan mengatakan bahwa orang tersebut sedang memiliki masalah, lelah, capek dan sejenisnya.

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengelola emosi marah sehari-hari. Pertama, kita perlu mengenali hal yang dapat memicu diri untuk menjadi marah (tempat, orang, waktu, peristiwa tertentu). Setelah itu, kita perlu mengetahui perubahan fisik saat sedang marah. Misalnya, detak jantung meningkat, kening berkerut, ketegangan di bahu, sakit kepala, atau gemetar. Berbicara dengan orang lain atau membuat catatan kecil tentang munculnya rasa marah akan membantu kita mengenali kebiasaan saat marah. Kemudian, kita dapat membuat rencana bagaimana saat menghadapi orang atau situasi yang memicu kemarahan. Jika kita merasa berada dalam situasi dimana banyak hal yang dapat memicu kemarahan, mintalah teman membantu untuk menenangkan diri, atau lakukan relaksasi untuk meredakan stres.

Untuk menyalurkan atau mengekspresikan emosi marah, kita dapat melakukan beberapa hal. Bercerita pada orang lain dapat menjadi salah satu cara. Disarankan bercerita pada orang yang bijak dan mengambil posisi sebagai pendengar tanpa menambah panas suasana. Selain itu, coba sediakan waktu untuk menenangkan diri (rileks). Kenali dan lakukan kegiatan yang membuat rileks. Misalnya, mandi air hangat, berolah raga, jalan-jalan, membaca buku, mendengarkan musik, menulis, bersosialisasi, dan sebagainya. Jika kita telah melakukan berbagai cara, tetapi masih mengalami kesulitan dalam mengelola kemarahan,  jangan segan untuk mencari bantuan tenaga profesional untuk konseling atau terapi.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post