Posted in balikpapan, depresi, kecemasan, keluarga, kesehatan mental, manajemen emosi, psikologi

​Waspada terhadap Baby blues dan Postpartum Depression  

Kaltim Post, 6 Februari 2017

Kelahiran anak merupakan salah satu momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan, namun sebagian besar ibu belum memahami dan menyadari tentang baby blues setelah kelahiran. Sebagian besar ibu, yaitu 50 hingga 80 persen, akan mengalami naik turunnya emosi yang dikenal sebagai baby blues. Mengapa  baby blues dapat terjadi? Hal ini karena jumlah hormon yang membantu selama kehamilan, seperti hormon progesteron dan estrogen, turun drastis setelah kelahiran. Turunnya jumlah hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan mood, mudah mengeluh, kelelahan, kebingungan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan kurang tidur dan perubahan hidup menjadi orang tua, membuat masa awal memiliki bayi menjadi sangat melelahkan.    

 
Beda baby blues dan postpartum depression 

Baby blues dapat dikatakan normal, jika seorang ibu merasa tidak nyaman namun dalam kadar yang sedikit dan sementara. Baby blues akan hilang dalam dua minggu setelah kelahiran. Walaupun begitu, jika dua minggu gejala-gejala ringan tersebut masih belum hilang, maka akan disebut sebagai Postpartum Depression (PPD). PPD merupakan hal yang serius dan diharapkan menemui ahli yang memahami tentang postpartum depression. Semakin cepat mendapatkan bantuan, semakin cepat ibu pulih dari PPD. Jika ibu dan lingkungan sekitar tidak menyadari tentang PPD, maka menjadi gangguan kronis. Sebanyak 25 persen ibu yang tidak mendapatkan penanganan, dapat mengalami depresi selama 1 tahun. 

 PPD juga dapat terjadi jika tanda cukup parah sehingga ibu tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal, meski tanda-tanda tersebut terjadi selama dua minggu pertama setelah kelahiran. Tanda-tanda yang ditemukan adalah kehilangan selera makan, sulit tidur, merasa tidak berguna, tidak dapat berkonsentrasi, cemas, marah, sangat sedih, kurang percaya diri, lelah dan kurang energi.  

PPD dapat dialami oleh 15 persen ibu (1 dari 7) di seluruh dunia. Penyebab PPD bukan hanya karena turunnya jumlah hormon yang akhirnya mempengaruhi neurotransmitter di otak, namun juga karena faktor psikososial seperti pindah rumah, sakit, kurang dukungan pasangan, masalah keuangan dan isolasi dari lingkungan sekitar. Hal ini mempengaruhi keadaan emosi seorang ibu. Kurangnya tidur, nutrisi yang cukup dan sehat juga dapat menyebabkan PPD.  

Pencegahan 

Untuk mencegah baby blues dan post partum depression, ada beberapa hal yang dapat dilakukan: 

a. Lakukan persiapan fisik dan mental yang matang sebelum melahirkan. Selesaikan masalah-masalah yang ada dalam keluarga, misalnya dengan pasangan atau orang tua. Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang bisa dilakukan setelah melahirkan dan berusaha konsisten dengan kesepakatan tersebut. 

b. Lengkapi pengetahuan ibu akan perawatan dan kesehatan bayi sebelum melahirkan. Pengetahuan tersebut bisa didapat melalui buku, majalah, dan website. Ayah dan ibu perlu menentukan metode yang akan digunakan saat melahirkan dan perawatan bayi yang diinginkan, terlepas dari pendapat orang tua, tetangga, dan teman. Usahakan ayah dan ibu paham betul cara merawat bayi.  

c. Dukungan dari keluarga dan orang terdekat sangat penting. Banyak berkomunikasi pada pasangan. Ayah juga diharapkan memahami kondisi ibu setelah melahirkan. Jika ada pihak lain yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus rumah tangga maka akan meringankan beban ibu. Tidak perlu malu dan ragu untuk meminta bantuan orang lain jika merasa kewalahan.  

d. Ibu memerlukan kondisi fisik dan mental yang sehat untuk mengasuh bayi. Beristirahatlah dengan memanfaatkan jam tidur bayi atau ketika ada bantuan orang lain. Dengan beristirahat akan mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Jangan lupa menjaga pola makan dan nutrisi agar ibu tidak mudah letih serta sakit. 

e. Sadari bahwa ibu tidak sendiri, carilah teman-teman yang nyaman untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teman-teman yang saling mendukung dan dapat berbagi energi positif untuk ibu. 

f. Selalu berdoa untuk kesehatan diri dan keluarga, agar terhindar dari baby blues, postpartum depression, serta gangguan mental lainnya. 

Advertisements
Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

Manajemen Emosi Bagi Ibu

koran-1

Kaltim Post, Desember 2016

“Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
berada dalam posisi tersebut?

Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
membalas dendam.

Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
sedikit demi sedikit.

Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
a village to raise a child.

Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
mengurangi perasaan tidak nyaman.

Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.