Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

Manajemen Emosi Bagi Ibu

koran-1

Kaltim Post, Desember 2016

“Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
berada dalam posisi tersebut?

Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
membalas dendam.

Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
sedikit demi sedikit.

Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
a village to raise a child.

Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
mengurangi perasaan tidak nyaman.

Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.

Advertisements
Posted in balikpapan, kecemasan, mengelola, psikologi

Memahami tentang kecemasan

image

Dalam kehidupan seseorang, perasaan cemas dapat muncul kapan saja. Dalam bentuk paling ringan, perasaan cemas dapat memacu kita untuk berpikir dan merencanakan sesuatu di masa depan. Hanya saja jika berlebihan, perasaan cemas dapat berubah menjadi hal yang menyebalkan dan mengganggu. Kecemasan yang berlebihan juga dapat mempengaruhi produktivitas, konsentrasi, dan mood. Bahkan, kecemasan yang berlangsung secara terus menerus dapat mengganggu hubungan dan hubungan sosial.

Cemas merupakan reaksi normal terhadap situasi yang penuh tekanan. Walaupun begitu, pada kasus-kasus tertentu rasa cemas muncul secara terus-menerus dan memperbesar masalah. Biasanya rasa cemas muncul pertama kali ketika masa kanak-kanak. Penelitian menunjukkan bahwa faktor biologis dan lingkungan berkontribusi terhadap gangguan kecemasan. Sebagian orang memiliki kecenderungan genetis hingga dapat muncul rasa cemas yang berlebihan. Walaupun begitu, pengalaman traumatis pada usia dini dapat mengubah proses tubuh yang normal menjadi reaktif atau berlebihan dalam menghadapi stres.       

Tanda-tanda Kecemasan

Berbagai tanda cemas dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu
fisik, pemikiran, perilaku, emosi dan interpersonal. Tanda fisik
yang muncul adalah meningkatnya detak jantung, Aliran darah 
kemudian mengencangkan otot-otot tubuh, terutama bagian kaki dan tangan. Bulu kuduk berdiri, berkeringat, muka memerah, perut kram juga merupakan tanda fisik yang muncul ketika timbul rasa cemas.

Secara kognitif, tanda cemas tampak dari bagaimana kita mengkhawatirkan pemikiran atau penilaian orang lain. Orang yang cemas takut dinilai sebagai orang yang membosankan, tidak mampu atau tidak menarik. Mereka juga cenderung melebih-lebihkan kemungkinan munculnya peristiwa negatif, bahkan merasa merasa tidak mampu untuk menanggulangi jika muncul masalah. Contohnya, mereka terlalu khawatir jika salah seorang teman meninggalkan dirinya atau enggan berteman lagi. Kecemasan dapat menyebabkan seseorang kehilangan kepercayaan diri, seperti tidak ada lagi yang mau berteman dengannya.

Tanda cemas jika dilihat dari perilaku adalah penghindaran. 
Orang menghindari situasi atau tingkah laku yang mereka takuti 
dan dapat memicu kecemasan. Mereka takut tidak dapat tampil
sesempurna yang diinginkan, bahkan berusaha menanggulangi 
kecemasan dengan bekerja lebih keras. Banyak tipe gangguan
Kecemasan yang berkaitan dengan memeriksa beberapa kali 
atau sebaliknya tidak ingin memeriksa. Misalnya, seseorang
yang memiliki gangguan makan biasanya cemas terhadap berat
badan mereka sehingga lebih sering menimbang berat badan atau
sebaliknya menghindar ketika mengecek berat badan.

Emosi juga menjadi salah satu tanda cemas. Emosi yang 
berkaitan dengan rasa cemas adalah cepat tersinggung dan 
merasa tidak berdaya. Sedangkan secara interpersonal, orang 
dengan kecemasan sering ingin ditenangkan oleh pasangannya. 
Orang dengan kecemasan pun memiliki ketakutan untuk 
mendekatkan diri atau merasa tidak kompeten dalam 
berhubungan dengan orang lain.

Hal yang dapat dilakukan jika sedang mengalami kecemasan, 
yaitu melakukan kontrol pernafasan dengan cara mengambil 
nafas dalam dan lepaskan secara perlahan-lahan hingga tubuh 
merasa nyaman. Relaksasi juga dapat dilakukan untuk melemaskan
ketegangan yang muncul pada otot-otot tubuh, terutama leher, 
kepala, dan dada. Selain itu, intervensi secara kognitif atau
pemikiran dapat dilakukan dengan mengubah pemikiran-pemikiran
negatif menjadi positif, menghindari pikiran yang tidak realistis. 

Pendekatan terhadap keluarga dengan bercerita dan memecahkan 
masalah bersama-sama dapat pula mengurangi kecemasan. Begitu 
pula dengan olah raga secara teratur agar dapat menyalurkan 
stres dan memberikan rasa nyaman pada diri sendiri. 

Posted in kesehatan mental, marah, mengelola, psikologi

Mengelola Amarah

IMG_20363107836490

Setiap orang pasti pernah merasa marah. Berbagai peristiwa atau keberadaan pihak lain dapat menjadi sumber dari emosi marah ini. Munculnya emosi marah tidak selalu dapat dihindari, terlebih lagi saat menghadapi situasi yang tidak adil dan tidak menyenangkan. Akan tetapi, emosi marah perlu dikelola dan dikendalikan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri dan lingkungan. Kemarahan yang tidak terkontrol, meski hanya sebentar, dapat berdampak luar biasa.

Marah dan penyebabnya

Marah merupakan emosi normal dengan rentang intensitas yang luas, mulai dari iritasi ringan, frustasi hingga amukan. Marah merupakan reaksi dari penafsiran dan kemungkinan ancaman terhadap diri, orang yang kita cintai, properti, gambaran diri atau bagian lain dari diri kita. Kemarahan merupakan tanda bagi kita untuk menyatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang salah.

Terdapat tiga hal untuk menyatakan bahwa kita sedang marah: 1) Reaksi fisik yang dimulai dengan adanya aliran adrenalin dan respons, seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah dan tegangnya otot. 2) Reaksi kognitif dimana kita mempersepsikan atau memikirkan tentang hal yang membuat kita marah. Misalnya, kita berpikir bahwa hal yang sedang terjadi pada diri adalah hal yang salah, tidak adil, dan tidak patut. 3) Perilaku atau cara kita mengekspresikan kemarahan. Rentang perilaku ini cukup luas, mulai dari wajah tampak merah, suara tampak keras, membanting pintu, pergi begitu saja atau tanda lain untuk menunjukkan bahwa kita marah.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penyebab dari marah dapat disebabkan oleh peristiwa atau hal yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Walaupun begitu, kita juga dapat menjadi marah karena hal yang kita lakukan pada diri sendiri. Stres, ingatan terhadap hal yang menyakitkan atau menyedihkan, kurang tidur, sedang mengalami sakit, cemas dan sebagainya dapat membuat kita menjadi marah.

Dampak dari marah

Mengalami emosi marah dapat menjadi hal yang baik dan sehat jika dapat memotivasi kita untuk membela diri dan melakukan koreksi terhadap hal yang salah. Marah dapat pula memotivasi untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Sebaliknya, emosi marah yang tidak terkontrol banyak berdampak negatif.

Dampak negatif dari kemarahan akan terasa pada tiga aspek, yaitu kesehatan, psikologis dan hubungan dengan orang lain. Faktanya, ketika kita marah, jantung berdebar dengan lebih keras, denyut nadi bertambah cepat, dan tekanan darah meningkat sehingga terdapat resiko untuk mengganggu kesehatan fisik seseorang. Tubuh juga jadi rentan terhadap penyakit, cepat lelah, dan daya tahan tubuh menurun. Secara psikologis, orang yang marah terlalu berlebihan tidak mampu mengambil kesimpulan yang tepat dan benar. Marah juga membuat kita dalam situasi yang tidak menyenangkan atau tidak bahagia. Kita pun akan dikenal sebagai orang yang pemarah. Selain itu, kemarahan dapat menimbulkan masalah dengan orang lain dan menghambat kerja sama karena ada permusuhan atau perasaan terluka.

Mengelola marah

Agar kemarahan tidak berdampak negatif dan menghindari perbuatan agresif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Hal yang dapat dilakukan saat sedang marah: 1) Cobalah mengatur volume suara dan pernapasan. Bicaralah perlahan dengan volume suara yang sedang, bahkan berbisik jika diperlukan. Hindari membentak atau berteriak. Tarik nafas dalam dan hitung pelan-pelan sampai 10 atau 20 dengan tujuan memberikan waktu bagi diri untuk merefleksikan keadaan, apakah situasi layak atau tidak dalam mengekspresikan kemarahan. 2) Jangan langsung mengekspresikan kemarahan baik secara lisan maupun tulisan. Jika sudah tenang, barulah fokus pada permasalahan, kemukakan hal yang menjadi harapan dan keinginan kita. 3) Jika belum bisa tenang, tinggalkan saja dulu tempat atau orang yang membuat kita marah. Berdiam diri atau “time-out”, berdoa, minum air putih, atau sekedar jalan-jalan dapat membantu menetralkan perasaan. Kita juga dapat menetralkan perasaan dengan mengatakan bahwa orang tersebut sedang memiliki masalah, lelah, capek dan sejenisnya.

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga dan mengelola emosi marah sehari-hari. Pertama, kita perlu mengenali hal yang dapat memicu diri untuk menjadi marah (tempat, orang, waktu, peristiwa tertentu). Setelah itu, kita perlu mengetahui perubahan fisik saat sedang marah. Misalnya, detak jantung meningkat, kening berkerut, ketegangan di bahu, sakit kepala, atau gemetar. Berbicara dengan orang lain atau membuat catatan kecil tentang munculnya rasa marah akan membantu kita mengenali kebiasaan saat marah. Kemudian, kita dapat membuat rencana bagaimana saat menghadapi orang atau situasi yang memicu kemarahan. Jika kita merasa berada dalam situasi dimana banyak hal yang dapat memicu kemarahan, mintalah teman membantu untuk menenangkan diri, atau lakukan relaksasi untuk meredakan stres.

Untuk menyalurkan atau mengekspresikan emosi marah, kita dapat melakukan beberapa hal. Bercerita pada orang lain dapat menjadi salah satu cara. Disarankan bercerita pada orang yang bijak dan mengambil posisi sebagai pendengar tanpa menambah panas suasana. Selain itu, coba sediakan waktu untuk menenangkan diri (rileks). Kenali dan lakukan kegiatan yang membuat rileks. Misalnya, mandi air hangat, berolah raga, jalan-jalan, membaca buku, mendengarkan musik, menulis, bersosialisasi, dan sebagainya. Jika kita telah melakukan berbagai cara, tetapi masih mengalami kesulitan dalam mengelola kemarahan,  jangan segan untuk mencari bantuan tenaga profesional untuk konseling atau terapi.

Dipublikasikan melalui Koran Kaltim Post