Posted in anak, bullying, keluarga, kesehatan mental, psikologi, remaja

Stop Bullying

Akhir-akhir ini, perilaku bullying atau ”perundungan” kembali menjadi perbicangan hangat di dunia maya, khususnya di media sosial. Ada dua kejadian yang memicu perbincangan hangat tersebut, yaitu di sebuah universitas swasta di Depok dan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Peristiwa bullying itu tentunya membuat geram pengguna internet, terutama yang telah merasakan menjadi orang tua. Mereka tampak menyayangkan, mengecam, bahkan ingin membalas pelaku bullying tersebut karena membayangkan bagaimana jika anak mereka mendapatkan perilaku yang serupa.

Menurut penulis buku tentang Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah, Riana Cahyani, perilaku bullying bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Hampir semua orang pernah melihat atau bahkan mengalami bully, entah sebagai korban atau pelaku. Bahkan KPAI pada tahun 2015 meyebutkan bahwa hampir semua pelajar di Indonesia pernah mengalami bullying di sekolah. Walaupun terjadi konflik dan terkadang muncul perilaku kekerasan, perilaku bullying berbeda dengan konflik biasa yang dialami oleh dua pihak. Pada kasus bullying, ada satu pihak yang merasa senang, sedangkan pihak yang lain merasa sedih, marah atau sakit hati. Hal lain yang membedakan adalah peristiwa mengalami pengulangan dalam kurun waktu tertentu dengan korban dan pelaku yang sama. Posisi dan kekuatan kedua pihak pun tidak setara. Salah satu pihak hampir tidak mungkin menghentikan atau membalas pihak yang lain. Korban terlalu takut dan cemas untuk melawan balik.

Korban bullying bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun bisa menjadi korban. Menyebar gosip, menirukan, mengejek, membuat lelucon hinaan, menghasut orang lain dengan tujuan mengucilkan, dan cyberbullying merupakan contoh perilaku bullying yang terjadi pada orang dewasa. Banyak peneitian yang telah dilakukan tentang dampak bullying. Korban dapat mengalami tidak nyaman, cemas, selalu merasa takut, dan merasa tidak berdaya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. Bahkan, bisa membuat korban menjadi seorang pembunuh atau malah bunuh diri (Anesty, 2009).

Sebagai pihak yang memahami tentang dampak bullying, kita perlu berhati-hati terhadap perilaku kita. Jangan sampai kita sendiri yang menjadi pelaku bullying karena pernah memukul, merusak barang, mengejek dan berkata kasar kepada orang lain. Jika kita melihat orang lain di-bully, kita perlu menghentikan dan memberikan peringatan kepada pelaku dengan cara yang asertif. Kita pun perlu menemani korban agar tidak merasa sendirian atau tidak berdaya saat menghadapi pelaku. Hal ini karena pelaku seringkali mencari orang yang lemah dan tidak bisa membela dirinya.

Sebenarnya pelaku bullying perlu mendapatkan pendampingan secara psikologis untuk menghentikan perilakunya karena perilaku mereka seringkali dipicu oleh masalah pribadi. Beberapa faktor penyebab adalah hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga, salah asuh atau pernah menjadi korban/saksi mata (Cahyani, 2017). Ketika hubungan dengan keluarga kurang harmonis, hal ini dapat menimbulkan frustrasi pada diri seseorang yang akhirnya ditimpakan pada orang lain yang terlihat lemah dan mudah digertak. Salah asuh juga menjadi faktor penyebab karena orang tua tidak mengajarkan bagaimana memperlakukan orang lain atau tidak memberi batasan mana yang boleh/tidak boleh sehingga memperlakukan orang lain sesuka hati. Seseorang yang pernah berada dalam posisi sebagai korban/saksi mata pun dapat berpotensi menjadi pelaku bullying. Misalnya, seseorang meniru dari perilaku orang tua atau lingkungan rumah yang melakukan kekerasan secara terus menerus. Arahkan pelaku bullying ini untuk menyelesaikan masalah pribadinya serta dampingi mereka agar mereka dapat belajar perilaku yang lebih positif terhadap orang lain.

 Dimuat di koran Kaltim Post 

Advertisements