Posted in keluarga, kesehatan mental, pernikahan, psikologi, Uncategorized

Bimbingan Pra Nikah

BIMBINGAN PRA NIKAH (tersedia di klinik Fajar Farma)


Persiapan Menuju Pernikahan Sakinah

Pemateri : Sarwendah Indrarani, M. Psi, Psikolog

Materi :
1. Tujuan dan Harapan Pernikahan
2. Mitos dan Fakta dalam Pernikahan
3. Sumber Konflik dengan Pasangan

Investasi :
Rp 300.000,- per pasangan. 1 pertemuan, 3 jam.

Registrasi dan informasi :

Klinik Fajar Farma

Jl. Indrakila Ruko No. 17J RT. 32 Kampung Timur, Balikpapan Utara
No. Telp: (0542) 8860836 atau 0821 5949 9446

Bimbingan Pranikah dengan membuat perjanjian sebelumnya

Kasus perceraian di Kota Balikpapan dari tahun ke tahun kian meningkat. Beberapa faktor penyebab perceraian adalah munculnya orang ketiga dan tidak adanya tanggung jawab suami. Penyebab lain adalah kurang dewasanya pihak pasangan dan adanya intervensi dari pihak lain. Tercatat pada tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2015, kasus perceraian semakin meningkat. Pada tahun 2013 jumlah kasus talak 504 kasus, sedangkan kasus gugatan cerai mencapai 1.016 kasus. Tahun 2014, kasus talak berjumlah 467 dan gugatan cerai mencapai 1.093. Sedangkan pada Juni 2015, kasus talak mencapai 236 dan kasus gugatan cerai mencapai 611 (http://balikpapan.prokal.co/read/news/168076-kasus-cerai-didominasi-pasangan-muda).

Data-data tersebut menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang mungkin muncul dalam sebuah pernikahan dan pasangan yang kurang mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan. Bukan mempersiapkan tentang prosesi pernikahan atau acara pestanya, namun lebih ke pada pemahaman akan makna pernikahan dan keterampilan menghadapi pasangan. Sebagian mungkin masih terbuai dengan indahnya pernikahan yang digambarkan di film atau cerita dongeng. Pernikahan digambarkan hanya berisi kebahagiaan, mencintai dan dicintai pasangan untuk selama-lamanya. Pernikahan digambarkan begitu ideal, bahkan seperti kapal penyelamat kehidupan yang selama ini mungkin tampak menyedihkan atau hambar. 

Banyak pasangan yang belum siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar tentang hal-hal yang bisa menguatkan hubungan mereka. Bahkan terkadang mereka belum mengenal diri sendiri dan mengenal kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa pasangan perlu untuk mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan yang ada dan membuat kesepakatan. Mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah lebih baik daripada mengalami konflik setelah menikah. Hal ini karena satu konflik saja yang terjadi setelah menikah bisa berujung perceraian. 

Menikah bukanlah hal yang mudah. Menjadi suami atau istri yang baik juga bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan pranikah sebagai bekal ilmu bagi pasangan tersebut. Bimbingan pranikah merupakan prosedur pelatihan berbasis pengetahuan dan keterampilan yang menyediakan informasi mengenai pernikahan yang dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan pasangan yang akan menikah setelah mereka menikah. Konseling pranikah diberikan oleh psikolog atau konselor pernikahan. Konselor bukanlah orang yang akan menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi. Ia hanya orang ketiga yang menjadi perantara dan menyodorkan cara pandang lain dalam melihat hubungan mereka. 

Tujuan Bimbingan Pranikah :

  • Meningkatkan hubungan sebelum pernikahan sehingga dapat berkembang menjadi hubungan pernikahan yang stabil dan memuaskan.
  • Membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian.
  • Bermanfaat untuk menjembatani harapan-harapan yang dimiliki  pasangan terhadap pasangannya dan pernikahan yang mereka inginkan yang belum sempat atau belum bisa dibicarakan sebelumnya dengan dibantu oleh tenaga profesional psikolog/konselor pernikahan.

    Posted in anak, balikpapan, kesehatan mental, manajemen emosi, marah, mengelola, pengasuhan, psikologi, Uncategorized

    Manajemen Emosi Bagi Ibu

    koran-1

    Kaltim Post, Desember 2016

    “Ibu tak akan marah padamu, kalau kamu tidak nakal,
    tidak iseng sama adik dan nurut sama ibu. Kamu tahu
    tidak? Ibu capek! Kamu harusnya paham. Bisa tidak,
    kamu tidak membuat ibu marah? Bisa tidak, kamu tidak
    bikin adikmu nangis?”. Pernahkah Anda mendengar kalimat
    tersebut dari seorang ibu atau pernah mengalami sendiri
    berada dalam posisi tersebut?

    Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah.
    Namun apakah sebagai ibu, Anda seringkali merasa marah
    tanpa terkendali pada anak dan suami, padahal sebenarnya
    mereka tidak memiliki kesalahan pada Anda? Apakah Anda
    marah pada anak kemudian menyesalinya? Dulu, Anda
    dikenal sebagai seorang penyabar, tetapi sekarang
    menjadi mudah emosi, mudah kesal, dan mudah marah.
    Namun, Anda seperti tidak mengerti apa penyebabnya.
    Barangkali pula Anda merasakan dampak dari emosi negatif
    tersebut, seperti stress, tekanan darah tinggi,
    serangan panik, gangguan tidur, dan sebagainya.

    Jadi, apa yang menjadi penyebab dari emosi berlebih
    tersebut? Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah
    mencari tempat untuk melakukan evaluasi dan mulai mengenal
    kembali diri sendiri. Kemudian coba sadari peristiwa-
    peristiwa di masa lalu yang masih diingat, apakah mungkin
    waktu kecil Anda sering mendapatkan perlakuan kurang
    menyenangkan oleh orang tua atau keluarga? Kemudian
    Anda merasa tidak berdaya dan akhirnya menyimpan
    kemarahan tersebut di dalam hati selama belasan tahun
    tanpa Anda sadari. Seiring berjalannya waktu, Anda
    memiliki keinginan untuk tidak seperti orang tua Anda
    dahulu. Akan tetapi, ketika memiliki anak dan suami,
    Anda melakukan hal yang sama seperti orang tua Anda.

    Hal lain yang bisa dievaluasi, apakah ada suatu kemarahan
    besar yang Anda simpan? Karena perlakuan yang tidak adil
    dari seseorang dan Anda tidak bisa mengekspresikan
    perasaan marah atau emosi negatif tersebut, atau mungkin
    karena mungkin dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi
    atau harus dihormati. Sebagai pelampiasannya, secara
    Anda tidak sadari, orang-orang terdekat dengan Anda
    yang menjadi sasaran kemarahan. Selain kemarahan yang
    tidak dapat diekspresikan, emosi negatif yang berlebih
    bisa juga disebabkan karena merasa diabaikan, perasaan
    tidak aman, merasa tidak dihargai dan sebagainya.

    Jika Anda sudah mendapatkan situasi atau pengalaman
    yang tidak menyenangkan tersebut, Anda bisa mulai
    memaafkan orang-orang yang telah memberi masalah
    tersebut (misalnya, telah menyakiti, membohongi,
    merendahkan, atau menghina kita). Kemudian fokus
    kembali pada hal-hal penting yang berdampak positif
    bagi kehidupan Anda agar terhindar dari keinginan
    membalas dendam.

    Setelah melakukan evaluasi dan mengenali sumber emosi
    negatif tersebut, hal yang dapat Anda lakukan jika
    menghadapi anak yang sedang berulah adalah menghitung
    1 s.d 10 di dalam hati secara perlahan untuk meredakan
    emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali. Dilanjutkan
    dengan tarik napas yang dalam beberapa kali. Saat
    menarik napas, fokuskan pikiran Anda pada napas yang
    masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah.
    Lakukan berulang sehingga Anda bisa menurunkan emosi
    sedikit demi sedikit.

    Ketika diri Anda sudah mulai tenang, coba untuk
    memunculkan empati. Terkadang pemicu masalah dari
    hal sepele. Berempati agar kita dapat merasakan
    keadaan atau pikiran orang lain. Contoh, jika
    anak rewel, dicari tahu terlebih dahulu penyebabnya
    dan kemudian cobalah berempati padanya atau bayangkan
    Anda berada dalam posisi anak Anda. Jika kita lapar
    atau mengantuk, mood kita bisa menjadi jelek. Begitu
    pula yang terjadi pada diri anak-anak. Perlu juga
    dipahami perkembangan psikologis anak, usia anak
    1-5 tahun memang wajar jika anak begitu aktif dan
    senang bereksplorasi dengan barang apapun. Oleh
    karena itu, sebagai orang tua, punya kewajiban
    untuk belajar kembali tentang perkembangan anak.

    Miliki sekelompok teman sesama ibu-ibu untuk berbagi

    pengalaman, cerita dan info tentang anak. Jika
    tinggal berdekatan, sesama ibu dan anak dapat
    membuat waktu kumpul bersama agar bisa bermain
    dan bersosialisasi. Pilihlah teman-teman yang
    bisa dipercaya dan bisa saling membantu jika
    sedang kesulitan. Misal, dititip anak ketika
    sakit dan tidak ada keluarga terdekat. Karena
    membesarkan anak, memang memerlukan bantuan
    orang lain. Seperti kata pepatah, It takes
    a village to raise a child.

    Cara lain yang dapat kita lakukan untuk manajemen
    emosi adalah berolah raga seperti: berjalan kaki,
    lari, senam atau berenang. Apapun jenisnya, olah
    raga dapat menstimulasi zat kimia dalam otak yang
    dapat membuat rileks dan bahagia. Menurut sebuah
    penelitian, olah raga dan perubahan mood seseorang
    memiliki hubungan yang cukup kuat. Dengan olah raga
    selama lima menit, kita bisa mendapatkan mood yang
    lebih positif. Dampak dari olah raga tidak hanya
    bermanfaat untuk mengubah mood, namun juga dapat
    mengurangi perasaan tidak nyaman.

    Pada awal menerapkan ini, tidak perlu risau jika
    masih merasa kesulitan, karena memang perlu waktu
    dan latihan. Cobalah terus-menerus sehingga
    mendapatkan cara efektif untuk mengontrol emosi kita.